Indonesiasenang-, Momentum peringatan Hari Kartini tahun ini menjadi lebih bermakna bagi sosok spiritual dan pelaku budaya, Rara Istiati Wulandari atau yang dikenal sebagai Mbak Rara. Pada Rabu (22/4/2026), ia menerima penghargaan sebagai Tokoh Lintas Agama Spiritual dari anggota DPD RI, Arya Wedakarna atau yang akrab disapa Gusti Ratu Ajik AWK.
Penghargaan tersebut diberikan di kompleks parlemen, sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi Rara dalam melestarikan tradisi seni dan kebudayaan Nusantara, sekaligus perannya dalam menghidupkan praktik spiritual lintas iman yang berpijak pada kearifan lokal.

Dalam lanskap budaya Indonesia yang kaya, kehadiran Rara menjadi representasi perempuan yang tidak hanya tampil di ruang publik, tetapi juga menjaga akar tradisi. Ia dikenal melalui praktik sebagai pawang hujan atau dalam tradisi Bali disebut tukang terang yang menggabungkan pendekatan spiritual, doa lintas agama, hingga ritual adat.
Penghargaan ini menjadi simbol bahwa peran perempuan dalam kebudayaan tidak lagi berada di pinggiran. Sosok seperti Rara justru berdiri di garis depan, menghubungkan spiritualitas, seni tradisi, dan kebutuhan masyarakat modern.
“Selamat Hari Kartini, mari perempuan berani mengaktualisasikan diri dengan anggun, bijaksana, dan berkarya”, ungkap Rara dalam refleksinya.
Dalam prosesi penghargaan, Ajik AWK turut menyematkan pin bergambar Soekarno sebagai simbol semangat Marhaenisme sebuah ideologi yang menekankan keberpihakan pada rakyat kecil.

Sebagai balasan penuh makna budaya, Rara menyerahkan wayang tokoh Semar kepada sang senator. Dalam filosofi pewayangan Jawa, Semar adalah pamomong para ksatria, figur bijak yang mengingatkan manusia untuk selalu eling lan waspada (ingat dan waspada).
Pertukaran simbol ini bukan sekadar seremoni, tetapi juga penegasan bahwa nilai-nilai budaya dan spiritual masih relevan dalam kepemimpinan modern.
Salah satu kontribusi Rara yang mendapat sorotan keterlibatannya dalam penanganan bencana, termasuk saat banjir besar di Bali pada September 2025. Ketika teknologi modifikasi cuaca seperti penyemaian garam digunakan, Rara justru menghadirkan pendekatan komplementer melalui doa, meditasi, dan ritual adat bersama para pemangku di berbagai pura, termasuk di kawasan Denpasar.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa kearifan lokal tidak harus bertentangan dengan teknologi. Sebaliknya, keduanya dapat berjalan berdampingan sebagai bentuk ikhtiar holistik, menggabungkan sains, budaya, dan spiritualitas.
Penghargaan yang diterima Rara di Hari Kartini menjadi refleksi tentang bagaimana perempuan masa kini mengartikulasikan perannya. Tidak hanya melalui pendidikan atau karier formal, tetapi juga lewat jalur budaya, spiritualitas, dan pengabdian sosial.

Dalam konteks ini, Rara merepresentasikan wajah baru Kartini modern, yaitu perempuan yang berani, tetap berakar pada tradisi, namun mampu menjawab tantangan zaman.
Di tengah arus globalisasi, kisah ini menjadi pengingat bahwa identitas budaya Indonesia tetap hidup, dijaga oleh mereka yang setia merawatnya, termasuk para perempuan yang kini berdiri sebagai penjaga sekaligus penggerak peradaban. Matursukseme tuaji @aryawedakarna #rarapawanghujan #indonesia . (januar; foto hrr)