Indonesiasenang-, Polemik pernyataan Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi mengenai percepatan Pemilu semakin menarik perhatian. Di tengah isu dugaan makar dan pertanyaan mengenai loyalitas politiknya, pembacaan kartu tarot Mbak Rara justru memunculkan simbol yang disebutnya sebagai pertanda keberuntungan.
Dalam pembacaannya, Mbak Rara membuka Akashic Records yang dikaitkannya dengan Budi Arie dan Projo. Sejumlah kartu kemudian diletakkan di atas meja, termasuk Wheel of Fortune dan The Star.
Mbak Rara mengingatkan bahwa hasil pembacaan tersebut boleh dipercaya ataupun tidak. Namun, menurut interpretasinya, kemunculan kartu-kartu itu memberikan gambaran menarik mengenai masa depan Projo dan Budi Arie.
"Ini ada simbol Wheel of Fortune”, ujar Mbak Rara.
Kartu Wheel of Fortune dalam pembacaan Mbak Rara dimaknai sebagai simbol perubahan sekaligus keberuntungan. Ia bahkan menyebut Projo memiliki semacam "jimat" dalam kontestasi Pilpres.
"Kalau untuk Projo, ini simbolnya adalah bejo, beruntung. Bisa dibilang untuk Pilpres, itu ada jimat ya. Jimat Projo”, kata Mba Rara.
Polemik semakin panas setelah muncul kabar mengenai pelaporan terhadap Budi Arie terkait isu makar.
Mbak Rara secara khusus menyinggung kabar tersebut dalam pembacaannya. "Untuk kasus ini Pak Budi Arie kabarnya dilaporkan oleh relawan Prabowo untuk makar, ya”, tuturnya.
Namun, hasil pembacaan yang disampaikannya justru menunjukkan gambaran berbeda.
Mbak Rara mengatakan pamor dan aura Budi Arie masih kuat. Ia juga menyebut elemen tanah dalam pembacaan tersebut sebagai pertanda kondisi yang relatif stabil. "Di sini secara pamor, secara aura, Pak Budi Arie masih kuat," ujarnya.
Bahkan, Mbak Rara menyebut persoalan yang sedang dihadapi Budi Arie tidak akan berkembang menjadi masalah serius berdasarkan interpretasi spiritualnya. "Baik-baik saja, tidak akan ada terjadi masalah yang serius”, lanjutnya.
Kejutan lain muncul ketika kartu The Star disebut dalam pembacaan Mbak Rara. Kartu tersebut ditafsirkan sebagai simbol bahwa Projo dan Budi Arie masih akan mendapatkan perhatian dalam perjalanan politik mendatang.
Mbak Rara kemudian menghubungkan simbol tersebut dengan kemungkinan masa depan Projo. "Apakah Projo akan menjadi partai? Di sini masih konsolidasi sih, masih konsolidasi, masih diobrolin dulu”, katanya.
Artinya, berdasarkan pembacaan tersebut, kemungkinan Projo berubah menjadi partai politik belum dianggap sebagai sesuatu yang sudah pasti.
Mbak Rara juga menyoroti perjalanan politik Projo yang sebelumnya identik dengan dukungan kepada Joko Widodo. Menurutnya, Budi Arie merupakan salah satu tokoh relawan yang sejak awal ikut mendorong Jokowi maju dalam Pilpres 2014 dan kembali mendukungnya pada Pilpres 2019.
Perubahan peta politik terjadi menjelang Pilpres 2024 ketika Budi Arie disebut menjadi salah satu tokoh yang lebih awal memberikan dukungan kepada Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
"Di 2024, Pak Budi Arie ini termasuk orang pertama yang mendukung Pak Prabowo dan Mas Gibran, lalu diikuti oleh relawan-relawan lainnya”, kata Mbak Rara.
Ia menilai keputusan tersebut tidak mudah karena terdapat perbedaan pilihan di antara kelompok relawan. Namun, Budi Arie disebut berupaya menyatukan relawan dalam mendukung Prabowo-Gibran.
Di tengah perdebatan mengenai pernyataan Budi Arie, persoalan loyalitas juga menjadi perhatian. Dalam pembacaan Mbak Rara, Budi Arie digambarkan sebagai sosok yang tetap memiliki loyalitas dan hubungan baik dengan berbagai pihak.
"Pak Budi Arie tidak memerintahkan untuk merekam nih... Pak Budi Arie tetap setia, tegak lurus”, ujar Mbak Rara.
Sementara dalam percakapan terpisah, Silas Dutu menilai pernyataan Budi Arie merupakan bagian dari dinamika demokrasi. "Apa yang disampaikan Budi Arie itu, saya pikir itu normal dalam alam demokrasi ini”, kata Silas.
Ditegaskan pula oleh Silas, bahwa kelompoknya merupakan pendukung Prabowo dan mengklaim ikut mendorong Prabowo untuk maju sebagai calon presiden.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa polemik yang berkembang tidak hanya menyangkut isi pernyataan Budi Arie, tetapi juga menyentuh persoalan siapa yang dianggap memiliki loyalitas dan legitimasi sebagai pendukung Prabowo.
Pada bagian akhir, Mbak Rara memberikan pesan yang cukup tegas. Menurut Mba Rara, simbol keberuntungan yang muncul dalam pembacaan menjadi alasan agar Budi Arie dan Projo tetap dirangkul. "Saranku, karena sudah ada simbol keberuntungan, hoki ini, ya Pak Budi Arie tetap harus dirangkul”, ujarnya.
Mbak Rara juga menilai hubungan Projo dengan Joko Widodo masih baik dan silaturahmi di antara pihak-pihak tersebut dapat dipertahankan.
”Silaturahminya tetap terjaga, nanti dengan pemerintah diduga makar jadi agak tegang padahal tidak benar, silaturahminya akan diperbaiki. Dengan Pak Jokowi bagaimana? Ya Pak Jokowi dengan Projo tetap baik”, kata Mba Rara.
Pada akhirnya, pembacaan Mbak Rara menghadirkan gambaran yang cukup kontras dengan panasnya polemik politik. Ketika isu makar dan loyalitas tengah menjadi sorotan, kartu Wheel of Fortune justru dibaca sebagai simbol keberuntungan, sedangkan The Star menjadi pertanda bahwa Projo masih memiliki daya tarik dan perhatian dalam peta politik.
Namun, seluruh prediksi tersebut merupakan interpretasi tarot dan pandangan spiritual Mbak Rara, bukan kepastian mengenai proses hukum, keputusan politik, ataupun masa depan Budi Arie dan Projo. (kelvin; foto mrr)