Indonesiasenang-, Dukungan terhadap karya budaya Indonesia memasuki babak baru dengan resminya penandatanganan MoU produksi film Tikam Samurai. Kesepakatan ini terwujud antara PT Semesta Tikam Samurai dan Bushi Bros Films dalam acara JAFF Market di Jogja Expo Center, Sabtu (29/11/2025), dan disaksikan langsung oleh Menteri Ekonomi Kreatif RI, Teuku Riefky Harsya.

MoU ini menjadi langkah penting untuk mewujudkan adaptasi layar lebar dari novel epik Tikam Samurai, sebuah kisah legendaris Minangkabau yang telah hidup selama puluhan tahun. Kolaborasi dua rumah produksi ini mendapat apresiasi sebagai bentuk nyata penguatan IP lokal agar dapat bersaing di ranah global.

Ditegaskan oleh Erik Hidayat selaku Co-Founder PT Semesta Tikam Samurai, bahwa kerja sama ini bukan hanya proyek film, tetapi bagian dari usaha memperkenalkan budaya Indonesia ke mata dunia.

Erik Hidayat menyebut bahwa perjalanan panjang Tikam Samurai dari novel ke film merupakan bukti kesungguhan mereka untuk membangun IP nasional yang memiliki daya saing internasional. “Ini bukan sekadar produksi film, ini adalah ikhtiar budaya. From Minang to the World”, ujarnya.

Diungkapkan Cornelio Sunny dari Bushi Bros Filmsm bahwa pihaknya memandang Tikam Samurai sebagai cerita dengan kekuatan emosional dan visual yang sangat besar. “Ini bukan hanya tentang balas dendam, tetapi tentang kehormatan dan identitas. Potensi sinematiknya sangat luar biasa”, katanya.

Rasa optimism disampaikan oleh Cornelio Sunny, bahwa film ini dapat membawa warisan budaya Minang ke panggung internasional melalui pendekatan visual modern dan produksi bertaraf dunia.

Menteri Ekonomi Kreatif RI, Teuku Riefky Harsya, yang hadir menyaksikan proses penandatanganan, menegaskan pentingnya kolaborasi ini dalam mendukung perkembangan industri film nasional.

Menurut Teuku Riefky Harsya, film seperti Tikam Samurai membuka jalan bagi IP Indonesia untuk semakin terdengar secara global. “IP-IP Indonesia harus terus naik kelas dan mendunia. Semoga film nasional semakin jaya”, ujarnya.

Tikam Samurai merupakan novel 10 jilid karya Makmur Hendrik, yang pertama kali hadir sebagai cerita bersambung di Harian Singgalang pada era 1970-an. Ceritanya mengikuti Si Bungsu, pemuda Minang yang menuntut keadilan atas kematian ayahnya menggunakan katana milik pembantai keluarganya. Latar sejarah pendudukan Jepang di Sumatera Barat (1942–1945) menjadi fondasi kuat yang membuat cerita ini kaya konteks budaya dan emosional.

Sejak 2022, PT Semesta Tikam Samurai telah membangun IP ini ke berbagai medium seperti animasi, komik, gim, dan konten hiburan lainnya, sebagai bagian dari upaya menyajikan karya Minang dalam format modern.

Kolaborasi terbaru ini menandai dimulainya proses produksi Tikam Samurai sebagai film layar lebar. Dengan dukungan pemerintah, kreator, dan pelaku industri, proyek ini diharapkan menjadi representasi baru kekayaan budaya Indonesia yang mampu bersaing di industri film internasional. (damar; foto hsts)