Primitive Monkey Noose Rayakan Budaya Lewat Panen Raya

Lewat single Panen Raya, Primitive Monkey Noose merayakan akar budaya agraris dan maritim Indonesia dengan balutan punk rock khas mereka

Primitive Monkey Noose Rayakan Budaya Lewat Panen Raya

Indonesiasenang.com-, Di tengah riuh wacana modernitas dan percepatan hidup kota, Primitive Monkey Noose memilih menoleh ke belakang. Bukan untuk bernostalgia semata, melainkan untuk mengingat kembali dari mana kehidupan ini bermula. Awal 2026 mereka tandai dengan merilis single terbaru berjudul “Panen Raya”, sebuah lagu yang lahir dari tanah, laut, dan ingatan kolektif masyarakat Indonesia.

Pertanian dan perikanan dalam “Panen Raya” tidak diposisikan sebagai simbol romantik atau sekadar latar cerita. Keduanya hadir sebagai identitas yang telah membentuk cara hidup, cara berpikir, dan cara bertahan jauh sebelum Indonesia dikenal sebagai sebuah negara. Lagu ini seperti mengajak pendengarnya berjalan perlahan menyusuri sawah, ladang, dan pesisir, ruang-ruang yang selama ratusan tahun menjadi sumber penghidupan sekaligus ruang kebersamaan.

Ajakan itu terasa jelas dalam penggalan lirik, “jika sedang bersedih lihatlah sawahmu, kalau hatimu gelisah pandanglah ladangmu”. Kalimat sederhana tersebut menyimpan makna yang dalam: tentang pulang, tentang ketenangan, dan tentang relasi manusia dengan alam yang selama ini kerap terlupakan. Bagi Primitive Monkey Noose, alam bukan sekadar objek eksploitasi, melainkan tempat manusia belajar tentang sabar, kerja bersama, dan harapan.

Secara musikal, “Panen Raya” tetap berpijak pada karakter Primitive Monkey Noose yang dikenal lantang dan berenergi. Punk dan rock menjadi tulang punggung, namun diperkaya dengan bunyi panting, alat musik tradisional khas Kalimantan Selatan. Perpaduan ini menciptakan warna yang unik, kasar sekaligus membumi, liar namun tetap berakar. Tradisi dan perlawanan bertemu dalam satu tarikan napas.

Single ini diproduseri oleh Prima Yuda Prawira dan direkam di Beehive Home Studio Recording, Batulicin. Proses produksinya menjadi ruang pertemuan antara idealisme, eksplorasi bunyi, dan keinginan untuk tetap jujur pada identitas musikal band. Hasilnya adalah lagu yang terasa hidup, penuh energi, namun tetap sarat pesan.

Lebih dari sekadar cerita tentang musim panen atau kehidupan petani dan nelayan, “Panen Raya” memuat doa dan harapan. Tentang hidup yang rukun, semangat gotong royong, dan perayaan hidup bersama sebagai masyarakat. Lagu ini seolah menjadi pengingat bahwa di tengah segala perbedaan dan kegaduhan, ada nilai-nilai lama yang masih relevan untuk dirawat.

Melalui kerja sama dengan label demajors, “Panen Raya” resmi dirilis pada 16 Januari 2026 dan sudah dapat didengarkan di berbagai platform digital seperti Spotify, YouTube Music, TikTok Music, Apple Music, dan Langit Musik. Dengan single ini, Primitive Monkey Noose kembali menegaskan posisinya sebagai band yang tidak hanya bersuara lantang, tetapi juga berpijak kuat pada akar.

Di tangan Primitive Monkey Noose, punk rock bukan sekadar teriakan, melainkan juga ingatan tentang tanah yang ditanami, laut yang dijala, dan kehidupan yang dirayakan bersama. (sugali; foto pmn)


Share Tweet Send
0 Komentar
Memuat...
You've successfully subscribed to Indonesia Senang Dot Com - Semampu kita bisa dan lakukan keSENANGanmu
Great! Next, complete checkout for full access to Indonesia Senang Dot Com - Semampu kita bisa dan lakukan keSENANGanmu
Welcome back! You've successfully signed in
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.