Indonesiasenang-, Seni bela diri sendiri cukup merasuk kuat di dalam pikiran setiap individu di Indonesia. Namun tidak bisa dipungkiri juga, mempelajari budaya beladiri tradisional seperti pencak silat selain membutuhkan waktu, juga membutuhkan ketelatenan tersendiri.

Sadar akan hal tersebut, Marsyel Ririhena, Hilda Ridwan Mas dan beberapa sahabat yang memiliki kecintaan terhadap ilmu beladiri dan visi yang sama bersepakat untuk meleburkan diri mereka dalam satu wadah yang disebut Pribadi Baja.

Selaku Ketua Umum Pribadi Baja, Marsyel Ririhena menjelaskan bahwa intinya komunitas ini ingin supaya bangsa Indonesia punya budaya berolahraga. Olahraganya dengan cara punya kemampuan bela diri. “Kita coba untuk membiasakan masyarakat atau bangsa Indonesia untuk olah raga bela diri, tetap berolahraga dan ada unsur bela diri,” ungkapnya.

Dijelaskan pula oleh Marsyel Rirehena, semua unsur bela diri ada dalam Pribadi Baja. “Biasanya hal semacam ini memang punya asosiasi atau organisasi sendiri. Tapi, ini satu-satunya di Indonesia wadah organisasi beladirinya bersatu. Semua unsur bela diri ada dalam sini, mulai dari standing fighting, ground fighting, tactical self defense dan tradisional seni, semua ada di dalam sini,” jelas saat melakukan latihan bersama rekan-rekan di GBK, Jakarta.

Marsyel Rirehena mengungkapkan bahwa semua profesi tidak luput dari ancaman bahaya. Untuk itulah, menurutnya setiap individu perlu dilengkapi pengetahuan yang memadai untuk menghadapi ancaman dan bahaya lainnya, termasuk persekusi, dengan teknik bela diri atau ‘self defense’.

Dalam kesempatan tersebut dipraktekan beberaa pelatihan sederhana untuk menghadapi ancaman kriminal seperti persekusi, penodongan, pemukulan dan juga ancaman penganiayaan dari para instruktur di Pribadi Baja. Beberapa teknik sederhana seperti memukul langsung organ vital seperti hidung, seputar dagu, batang leher dan selangkangan.

“Ini hanya untuk dapat mempertahankan diri dari serangan sehingga kita mempunyai waktu untuk menghindar dari bahaya. Memberi pengenalan prinsip-prinsip, ilmu, dan teknik beladiri praktis sebagai bagian keahlian penunjang para individu yang riskan terpapar resiko dari pekerjaan yang berbahaya di lapangan”, ujar Marsyel Rirehena.

Senada dengan yang disampaikan oleh Hilda Ridwan Mas selaku Ketua Departemen Organisasi Pribadi Baja, pihaknya berusaha untuk memperluas penyebaran organisasi dengan merangkul generasi muda. “Sengaja kita mengajak milenial, karena perkembangan zaman bisa dilihat dari cara pandang generasi tersebut cukup berbeda. Mereka lebih kritis, dan ingin sesuatu yang lebih praktis”, katanya.

Disampaikan juga bahwa secara organisasi Pribadi Baja baru terbentuk pada awal Januari 2019. “Walau masih baru, tapi perkembangannya sudah sangat cepat, Sudah ada dibeberapa kota di Indonesia seperti di seluruh Jabodetabek, Bandung, Gorontalo dan lainnya. Untuk sementara ini, kami hanya fokuskan diri membangun Korwil saja di setiap kota”, ungkap Hilda Ridwan Mas.

Secara garis besar, Pribadi baja memiliki visi membangun karakter bangsa Indonesia agar memiliki mental baja, karena orang-orang ikut bela diri biasanya mempunyai mental satria dan sportif. Dari situ Pribadi Baja ingin menularkan mental baja ke seluruh Indonesia. Sementara misinya adalah selain menjaga budaya juga karakter yang tidak mudah termakan oleh hoaks. Juga ingin mempersatukan orang-orang beladiri tradisional dan orang-orang beladiri prestasi. (rls; foto dok)