Indonesiasenang-, Suasana XXI Plaza Senayan, Jakarta, pada Sabtu, 14 Maret 2026 dipenuhi aura mistis sekaligus antusiasme para insan perfilman dan media saat digelar Press Screening & Press Conference film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa. Film yang diproduseri oleh Sunil Soraya ini menjadi babak baru dalam perjalanan salah satu ikon horor paling legendaris di Indonesia, yakni karakter Suzzanna.
Diproduksi oleh Soraya Intercine Films bersama Legacy Pictures dan Navvaros Entertainment, film ini digadang-gadang sebagai horor kolosal dengan skala produksi besar, visual megah, serta cerita yang memadukan teror, drama, dan nilai kemanusiaan.
Disutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis dengan naskah yang ditulis oleh Ferry Lesmana, Jujur Prananto, dan Sunil Soraya, film ini akan resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 18 Maret 2026, bertepatan dengan momentum libur Lebaran.
Dalam film ini, Luna Maya kembali memerankan sosok Suzzanna. Namun ada pendekatan berbeda dibandingkan film-film sebelumnya. Untuk pertama kalinya, karakter Suzzanna ditampilkan lebih manusiawi—memiliki emosi, dilema, dan konflik batin yang kuat.
Kisahnya berpusat pada dendam Suzzanna terhadap Bisman, penguasa desa kejam yang diperankan oleh Clift Sangra. Bisman menyantet ayah Suzzanna hingga tewas demi ambisi kekuasaan. Trauma dan kemarahan itulah yang mendorong Suzzanna mempelajari ilmu santet untuk membalas dendam.
Di tengah perjalanan, Suzzanna justru menemukan cinta pada Pramuja, tokoh yang diperankan Reza Rahadian, seorang pria religius yang tidak mengetahui rahasia kelam Suzzanna. Konflik pun berkembang antara dendam yang membara dan cinta yang menuntut pengorbanan.
Menurut Reza Rahadian, cerita film ini bukan sekadar horor. “Film ini berbicara tentang relasi manusia, isu kelas sosial, hingga penyalahgunaan kekuasaan. Ini langkah berani dalam membawa cerita Suzzanna dengan pendekatan kreatif yang lebih besar”, ujarnya dalam konferensi pers.
Sebagai film horor berskala besar, Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa menghadirkan desain produksi yang megah. Ratusan pemain terlibat dalam adegan-adegan besar yang memperkuat atmosfer cerita, dari set desa yang detail hingga sekuens aksi yang ikonik.
Ditegaskan oleh Sunil Soraya bahwa film ini dirancang sebagai hiburan Lebaran yang berbeda. “Kami ingin menghadirkan tontonan horor dari IP Suzzanna yang belum pernah ada sebelumnya. Film ini punya entertainment value yang besar sekaligus pesan moral”, katanya.
Selain trio pemeran utama, film ini juga menghadirkan jajaran aktor lintas generasi seperti Djenar Maesa Ayu, Iwa K., El Manik, Yatti Surachman, Adi Bing Slamet, Azis Gagap, Nunung, Piet Pagau, hingga Sabar Bokir yang memberi warna komedi dan drama dalam cerita.
Totalitas akting Luna Maya kembali menjadi sorotan. Untuk memerankan Suzzanna, ia harus menjalani proses tata rias prostetik hingga empat jam setiap hari.
Tak hanya itu, Luna juga melakukan sendiri beberapa adegan ekstrem tanpa pemeran pengganti. Salah satu yang paling menantang adalah adegan tenggelam di arus sungai yang membuatnya sempat tidak muncul ke permukaan selama beberapa menit.
“Film ini benar-benar grande. Saat ditonton di libur Lebaran, rasanya seperti disuguhkan tontonan yang meledak-ledak”, ucap Luna Maya.
Melalui Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa, warisan horor Indonesia kembali dihidupkan dengan pendekatan modern. Film ini tidak hanya menghadirkan teror santet yang lekat dengan budaya lokal, tetapi juga menyelipkan refleksi tentang kemanusiaan, kekuasaan, dan pilihan hidup.
Dengan skala produksi yang besar, kisah emosional yang kuat, serta atmosfer mistis khas Nusantara, film ini diproyeksikan menjadi salah satu tontonan horor terbesar di musim Lebaran 2026. Film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa mulai tayang di bioskop Indonesia pada 18 Maret 2026. (kintan; foto hssds)