Indonesiasenang-, Jakarta, 9 September 2026 — Tim Indonesia Senang baru saja menyaksikan Practical Magic: The Book of Magic, film fantasi yang kembali mempertemukan Sandra Bullock dan Nicole Kidman sebagai kakak-adik penyihir, Sally dan Gillian Owens.
Membawa nama Practical Magic, tentu ada ekspektasi untuk melihat aksi sihir yang menggemaskan sekaligus mengagumkan. Sayangnya, ekspektasi tersebut tidak sepenuhnya terpenuhi. Unsur magic dalam film ini justru terasa cukup minim. Dari keseluruhan cerita, mungkin hanya sekitar 30 persen yang benar-benar memperlihatkan adegan-adegan sihir.
Padahal, dunia keluarga Owens dan The Book of Magic sebenarnya punya potensi besar untuk menghadirkan konflik yang lebih spektakuler.
Konflik Kurang Greget
Konsep kutukan dalam film sebenarnya menarik. Para perempuan keluarga Owens tidak boleh mengatakan “I love you” atau mengungkapkan rasa cinta kepada seseorang, karena orang yang mereka cintai akan mengalami kematian.
Kutukan tersebut tentu merupakan masalah besar. Sally bahkan harus menghadapi kehilangan orang yang dicintainya setelah mengungkapkan perasaannya. Dan kini kutukan itu juga hampir dialami sang anak, Kylie Owens (Joey King) yang mengungkapkan rasa sayangnya pada Gideon, kekasihnya. Kyle berusaha menyelamatkan dengan melakukan ritual, namun justru membahayakan dirinya.
Namun, eksekusinya terasa kurang menggigit. Konflik yang seharusnya emosional dan menegangkan justru berjalan cukup datar. Begitu pula dengan pencarian dan perebutan The Book of Magic. Ketika buku tersebut menjadi rebutan karena menyimpan kekuatan besar, seharusnya ada ketegangan yang lebih intens. Tokoh jahat yang dimunculkan juga terusan hanya lewat saja. Sayang sekali bagian ini terasa seperti berjalan seadanya.
Kontak Fisik Kakak-adik Justru Terkesan Aneh
Sandra Bullock dan Nicole Kidman tetap memiliki chemistry yang kuat sebagai Sally dan Gillian. Namun, hubungan kakak-adik yang ditampilkan terasa sangat dekat dan ekspresif.
Pelukan, candaan, hingga gestur fisik keduanya terkadang terasa lebih seperti dua sahabat yang sangat intim daripada kakak-adik perempuan. Memang, setiap keluarga mempunyai cara berbeda dalam menunjukkan kasih sayang. Tetapi bagi kami, kedekatan Sally dan Gillian terasa cukup berlebihan.
Meski begitu, hubungan keduanya sekaligus menjadi kekuatan film karena memperlihatkan bagaimana kakak-adik dapat menjadi tempat saling menguatkan ketika menghadapi masalah.
Bukan Tentang Sihir, tapi Keluarga
Pada akhirnya, Practical Magic: The Book of Magic justru lebih banyak berbicara tentang keluarga, cinta, kehilangan, dan rasa takut kehilangan orang yang disayangi.
Ada perjuangan seorang ibu terhadap anaknya, hubungan kakak-adik yang saling mendukung, serta usaha keluarga Owens menghadapi kutukan yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Jadi, film ini terasa lebih seperti drama keluarga yang dibungkus dunia fantasi daripada film penyihir yang berfokus pada aksi magic. Terasa lebih segar karena perilaku konyol Nicole Kidman yang terus mengganggu Sandra Bullock di setiap waktu.
Visual Juara
Kalau ada satu hal yang benar-benar sulit dikritik, jawabannya adalah visual. Warner Bros berhasil menghadirkan dunia keluarga Owens yang sangat cantik. Bunga-bunga full color, desain bangunan, interior rumah, hingga berbagai detail dekorasi terasa begitu memanjakan mata.
Rumah keluarga Owens bahkan bisa disebut sebagai rumah impian—hangat, feminin, penuh bunga, tanaman, warna, dan detail cantik.
Secara keseluruhan, Practical Magic: The Book of Magic mungkin kurang memberikan aksi sihir spektakuler yang kami harapkan. Konfliknya pun terasa belum cukup greget.
Namun, film ini tetap punya daya tarik melalui hubungan keluarga, kisah cinta, dan visual yang sangat cantik.
Rating Indonesia Senang: 7/10.
Practical Magic: The Book of Magic tayang di bioskop Jakarta mulai 9 September 2026. (kintan; foto wbp)