Pelangi di Mars, Ambisi Film Anak Tembus Batas

Pelangi di Mars hadir sebagai film anak sci-fi ambisius dengan teknologi XR. Hasil 5 tahun produksi, tayang Lebaran 2026 di bioskop

Pelangi di Mars, Ambisi Film Anak Tembus Batas

Indonesiasenang-, Di tengah dominasi film aksi dan horor di layar lebar, kehadiran Pelangi di Mars terasa seperti angin segar. Film produksi Mahakarya Pictures ini bukan hanya menawarkan petualangan luar angkasa untuk anak-anak, tetapi juga membawa misi besar: membuktikan bahwa film anak Indonesia bisa tampil megah, modern, dan berkelas internasional.

Disutradarai oleh Upie Guava, proyek ini bukan lahir dari proses singkat. Dibutuhkan lebih dari lima tahun untuk mewujudkan dunia Mars yang kini terlihat begitu hidup di layar. Waktu yang panjang itu bukan semata karena kompleksitas cerita, melainkan karena keberanian tim produksi menggunakan teknologi Extended Reality (XR) atau virtual production, sesuatu yang pada 2020 masih terdengar asing di industri perfilman nasional.

Alih-alih mundur, tim justru memilih membangun fondasi teknologi tersebut dari nol, bersamaan dengan pengembangan naskah. Sebuah langkah berisiko yang membuat proses produksi kerap terasa seperti berjalan di medan yang belum pernah dipetakan.

Bagi Upie Guava, Pelangi di Mars adalah jawaban atas kerinduan masa kecilnya. Ia tumbuh dengan tontonan fiksi ilmiah Hollywood seperti Jurassic Park dan Star Wars, film-film yang membentuk imajinasi tentang petualangan, sains, dan keberanian.

Namun satu pertanyaan terus mengemuka, yaitu kapan anak Indonesia memiliki pahlawan luar angkasa dari negeri sendiri?

Pertanyaan itulah yang melahirkan karakter Pelangi, anak pertama yang lahir di Planet Mars. Sosok ini bukan sekadar karakter fiksi, melainkan simbol harapan, bahwa anak Indonesia pun layak bermimpi besar, bahkan hingga melampaui atmosfer bumi.

“Saya ingin anak-anak Indonesia berpikir bahwa mereka boleh bermimpi setinggi langit, dan mereka mampu menggapainya”, ujar Upie Guava.

Film ini merangkai petualangan spektakuler dengan pesan tentang kegigihan, tanggung jawab, dan keberanian menghadapi tantangan. Di balik efek visual futuristiknya, tersimpan nilai sederhana bahwa mimpi membutuhkan usaha dan ketekunan.

Dengan jadwal tayang 18 Maret 2026 bertepatan libur Lebaran, Pelangi di Mars diproyeksikan menjadi film keluarga yang menyatukan hiburan dan refleksi. Momentum ini dinilai tepat, ketika keluarga mencari tontonan yang bisa dinikmati bersama sekaligus memberi inspirasi bagi anak-anak.

Keputusan menghadirkan film sci-fi untuk segmen anak juga menjadi pernyataan penting bagi industri. Selama ini, genre tersebut jarang digarap secara serius di Indonesia, apalagi dengan standar teknologi tinggi.

Produser Dendi Reynando mengenang masa-masa awal pengembangan sebagai fase yang penuh ketidakpastian. Mereka bukan hanya menulis cerita, tetapi juga membangun fondasi teknologi yang belum tersedia.

“Kadang kami berpikir membuat film ini hampir mustahil. Saya mengibaratkan proses tersebut seperti tersesat di hutan asing mencari jalan keluar sambil terus belajar memahami medan”, kata Dendi Reynando.

Kini, lima tahun kerja keras itu bermuara pada satu harapan agar anak-anak Indonesia keluar dari bioskop dengan mata berbinar dan percaya bahwa mereka boleh bermimpi setinggi langit, bahkan setinggi Mars.

Pelangi di Mars bukan sekadar film tentang luar angkasa. Ia adalah tentang keberanian menembus batas, baik batas teknologi, industri, maupun batas dalam pikiran kita sendiri. (alvin; foto hmp)


Share Tweet Send
0 Komentar
Memuat...
You've successfully subscribed to Indonesia Senang Dot Com - Semampu kita bisa dan lakukan keSENANGanmu
Great! Next, complete checkout for full access to Indonesia Senang Dot Com - Semampu kita bisa dan lakukan keSENANGanmu
Welcome back! You've successfully signed in
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.