Indonesiasenang-, Sektor pariwisata kembali menjadi salah satu motor penting penggerak ekonomi Indonesia pada Triwulan I 2026. Di tengah dinamika global dan tantangan geopolitik internasional, industri pariwisata nasional justru menunjukkan daya tahan yang kuat melalui peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara, melonjaknya perjalanan wisatawan nusantara, hingga kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Ditegaskan oleh Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, bahwa capaian sektor pariwisata pada Maret 2026 menjadi indikator positif bahwa industri ini tetap resilien dan mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Secara keseluruhan, pencapaian sektor pariwisata pada bulan Maret 2026 merupakan prestasi yang membanggakan dan membuktikan resiliensi pariwisata Indonesia”, kata Widiyanti Putri Wardhana dalam penyampaian Laporan Bulanan Kinerja Kementerian Pariwisata di Jakarta, Jumat (08/05/2026).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada Maret 2026 mencapai 1,09 juta kunjungan atau meningkat 10,50 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara kumulatif Januari hingga Maret 2026, jumlah wisatawan asing juga tumbuh 8,62 persen dibandingkan Triwulan I 2025.
Kinerja positif tersebut menjadi sinyal kuat bahwa destinasi wisata Indonesia masih memiliki daya tarik tinggi di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian. Pemerintah pun menerapkan strategi adaptif dalam menghadapi potensi penurunan wisatawan akibat memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah.
Hasilnya, pasar wisatawan dari kawasan Oseania tumbuh 19,32 persen, Asia Tenggara naik 18,84 persen, dan kawasan Asia lainnya meningkat 8,03 persen secara year-on-year pada Maret 2026. Diversifikasi pasar ini dinilai menjadi langkah strategis untuk menjaga stabilitas industri pariwisata nasional.
Tak hanya dari sisi jumlah kunjungan, kualitas belanja wisatawan asing juga meningkat. Rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara atau Average Spending per Arrival (ASPA) pada Triwulan I 2026 tercatat mencapai 1.345,61 dolar AS atau sekitar Rp22,87 juta per kunjungan. Angka tersebut tumbuh 5,36 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kenaikan pengeluaran wisatawan menjadi indikator penting dalam pengembangan pariwisata berkualitas yang saat ini terus didorong pemerintah. Kementerian Pariwisata menilai strategi pengembangan produk wisata berbasis pengalaman, budaya, gastronomi, wellness, marine tourism, hingga art and design mulai memberikan dampak ekonomi yang lebih besar.
Selain wisatawan asing, pergerakan wisatawan nusantara juga menjadi penggerak utama roda ekonomi daerah. Pada Maret 2026 tercatat sebanyak 126,34 juta perjalanan wisatawan nusantara atau meningkat 42,10 persen dibandingkan Maret 2025. Lonjakan ini dipicu momentum libur Nyepi dan Idul Fitri yang turut meningkatkan konsumsi masyarakat.
Secara kumulatif Januari–Maret 2026, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 319,51 juta perjalanan atau tumbuh 13,14 persen. Aktivitas tersebut berdampak langsung terhadap sektor transportasi, akomodasi, kuliner, hingga ekonomi kreatif di berbagai daerah tujuan wisata.
Menariknya, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara masih lebih tinggi dibandingkan perjalanan wisatawan Indonesia ke luar negeri. Pada Maret 2026 tercatat surplus sebesar 0,30 juta kunjungan, sementara periode Januari–Maret 2026 mencatat surplus 0,94 juta kunjungan. Kondisi ini mendukung pencapaian devisa pariwisata yang tetap positif bagi Indonesia.
Kontribusi sektor pariwisata terhadap ekonomi nasional pun semakin terlihat. Ekonomi Indonesia pada Triwulan I 2026 tumbuh 5,61 persen secara year-on-year, dengan sektor pariwisata diperkirakan menyumbang sekitar 4,01 hingga 5 persen terhadap total pertumbuhan nasional.
Dampaknya tercermin pada sejumlah lapangan usaha terkait pariwisata. Sektor akomodasi dan makan minum tumbuh 13,14 persen dengan kontribusi mencapai Rp172,7 triliun. Sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 8,04 persen dengan kontribusi Rp378,3 triliun, sementara jasa lainnya tumbuh 9,91 persen dengan kontribusi Rp136,4 triliun.
Pemerintah juga terus memperkuat fondasi industri pariwisata melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, sertifikasi profesi, penguatan pendidikan vokasi, hingga penataan regulasi usaha akomodasi wisata.
Dalam pengembangan industri, Kementerian Pariwisata bersama pemerintah daerah, asosiasi, dan online travel agent (OTA) terus melakukan penataan perizinan usaha sektor akomodasi. Hasilnya, hingga 30 April 2026 jumlah akomodasi wisata yang telah terdaftar dan memiliki izin usaha dalam sistem OSS meningkat 43,12 persen.
Di sisi promosi, Indonesia aktif mengikuti berbagai pameran dan sales mission internasional seperti Asia Dive Expo 2026, Macao International Travel Expo 2026, hingga Sales Mission Japan 2026. Rangkaian kegiatan tersebut menghasilkan potensi devisa sebesar Rp167,92 miliar serta potensi perjalanan mencapai 8.270 pax.
Sementara melalui program Karisma Event Nusantara (KEN), pemerintah juga memaksimalkan dampak ekonomi berbasis event daerah. Hingga 6 Mei 2026, sebanyak 13 event telah terselenggara di 11 provinsi dan berhasil menarik 752,30 ribu pengunjung dengan total transaksi ekonomi mencapai Rp74,25 miliar.
Event-event tersebut juga melibatkan 3.760 UMKM, 6.950 pekerja seni, serta membuka lapangan kerja bagi 3.260 tenaga kerja. Angka ini menunjukkan bahwa sektor pariwisata tidak hanya menjadi penggerak perjalanan wisata, tetapi juga menjadi penguat ekonomi kerakyatan dan industri kreatif daerah.
Dalam menghadapi tantangan global dan potensi krisis pariwisata, pemerintah terus memperkuat mitigasi, tata kelola keamanan destinasi, serta koordinasi lintas kementerian dan lembaga. Salah satunya dilakukan melalui penguatan pengawasan wisatawan asing dan peningkatan standar keamanan destinasi wisata seperti di Labuan Bajo dan Bali.
Menurut Widiyanti Putri Wardhana, capaian Triwulan I 2026 menjadi bukti bahwa industri pariwisata Indonesia masih memiliki daya saing kuat di tingkat global sekaligus mampu memberikan dampak luas bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
“Pencapaian Triwulan I mencerminkan kuatnya industri pariwisata dan kepercayaan global terhadap destinasi pariwisata Indonesia, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia”, pungkas Widiyanti Putri Wardhana. (dewa; foto kbkp)