Pameran Renjana, Ketika Tujuh Pelukis Cat Air Menemukan Bahasa Jiwa di Balai Budaya

Pameran “Renjana” menampilkan karya tujuh pelukis cat air dari ABAS Studio, menghadirkan eksplorasi hasrat, warna, dan perjalanan jiwa di Balai Budaya

Pameran Renjana, Ketika Tujuh Pelukis Cat Air Menemukan Bahasa Jiwa di Balai Budaya

Indonesiasenang-, Di Balai Budaya, tujuh pelukis cat air menghadirkan sesuatu yang lebih dari sekadar pameran. Mereka mempersembahkan Renjana, sebuah tajuk yang mengakar pada kata Sanskerta Ranjana, makna tentang kekuatan hasrat, kegembiraan, dan dorongan maha-kuat untuk mencipta. Sebuah energi yang, seperti kata Van Gogh, lahir dari “perjuangan dan pencarian tak henti,” dan menjadi suara yang hanya bisa dibungkam lewat satu cara: melukis.

Semangat itu terasa dalam perjalanan visual tujuh perupa yang tergabung dalam ABAS Studio dengan mentor Agus Budiyanto. Masing-masing membawa renjana yang berbeda, tapi bertemu dalam satu medan: totalitas antara diri seniman dan “kanvas hidup” yang mereka hadapi.

Michellina Triwardhany (Dhani): Menafsir Keheningan dan Gelombang

Dhani membawa penonton pada ruang hening yang penuh kehadiran. Ia menangkap gerak alam sebagai bisikan batin, menghadirkannya dalam sapuan cat air yang lembut sekaligus tegas. Dalam The Guide dan The Explorer (50x40 cm, 2025), Dhani menafsir gelombang laut sebagai metafora keteguhan kapal yang terombang oleh badai, mercusuar yang diterpa angin.

Namun karya yang paling memikat adalah The Listener. Dengan tirai air kelabu yang tembus pandang, Dhani menghadirkan figur “sang pendengar”, sebuah bentuk keheningan yang bukan pasif, tapi mendalam dan menggigilkan.

Dian Fitrasari: Merayakan Keseharian dan Cahaya

Dian membawa hasratnya pada momentum sederhana, menangkap manusia-manusia desa yang menanak nasi, mengayam, atau mencandai pagi. Bahasa realisnya sering dibubuhi judul falsafi, menghadirkan keintiman visual.

Karya Catch Fish, not Feelings (76x56 cm, 2025) menjadi titik puncak. Ikan-ikan indah itu melayang dalam laburan cat air yang meleleh, menawarkan suasana melankolis, seolah Dian membebaskan dirinya dalam tarian cahaya, ruang, dan waktu.

Niken Vijayanti (Nieke): Melukis Ruang Kejujuran

Bagi Nieke, melukis adalah perjalanan jiwa. Ia menjadikan kanvas sebagai ruang kejujuran, terutama ketika ia kembali pada sosok yang paling dekat: sang ayah.

Kangen Bapak (76x56 cm, 2025) menampilkan metafora mesin ketik tua dan api kecil, intim, hangat, dan puitis. Sementara Hanging Hope (76x56 cm, 2025) membawa nuansa filmis, seperti cuplikan cerita yang lembut namun menggetarkan.

Aviliani: Menemukan Harmoni dalam Bidang dan Warna

Aviliani bermain dengan keseimbangan. Ia membagi bidang, merangkai pola, dan menenun warna agar saling berdialog menciptakan komposisi yang sama jernihnya dengan renjananya.

Karya terbaiknya, King of the Spirits (Bali Mythology) (56x38 cm, 2025), menampilkan perpaduan warna dan garis yang bertemu dalam harmoni. Ada pencarian gradasi khusus, hasil pertemuan kuas kering dan basah yang telaten dan bersahaja.

Baskoro Sardadi: Ketika Kuas Menari

Satu-satunya pelukis laki-laki di pameran ini, Baskoro, dikenal akan teknik cat airnya yang luwes. Cat airnya meleleh, menciprat, menghilang, lalu hadir kembali dengan kejelasan bentuk yang mengejutkan.

Ia tak mengejar simbolisme berat yang mengalir dari kuasnya adalah spontanitas jenaka, lembut, dan menari-nari. Ia bermain dengan ruang putih sebagai bagian dari komposisi, menghadirkan kedalaman tanpa pretensi.

Enda Ginting: Perempuan, Bayang-bayang, dan Mistisme Urban

Enda menemukan dirinya dalam figur perempuan, bayangan, serta benda-benda harian—buku, binatang, jam, jemuran. Semuanya seperti serpihan kehidupan urban yang ia buka satu per satu.

Dalam Tree of Possibilities (56x76 cm, 2025), Enda mencapai puncaknya.

Ia menggabungkan konsep pohon sebagai metafora kehidupan: ranting, akar, buah, bayangan buram, dan kemungkinan-kemungkinan yang menyertainya.

Hasilnya adalah atmosfer mistis, penuh ruang, dan sarat simbol filosofis.

Dumasi Marisina Magdalena Samosir: Menyelam ke Laut Imajinasi

Dumasi terpikat pada dunia bawah laut, dan itu terasa di setiap karyanya. Ia memadukan realisme, representasi, dan abstraksi seperti seorang komposer yang merangkai simfoni visual.

Karya puncaknya, When Colors Breathe (76x112 cm), adalah perjalanan ke kedalaman laut: terumbu karang, gerak ikan, sosok penyelam mungil, dan arsitektur warna yang berlapis-lapis.

Ia mengajak penonton menyelam ke “teka-teki keelokan laut”—interpretasi ‘Renjana’ yang paling menggema.

Pameran ini bukan sekadar unjuk karya; ia adalah perjumpaan antara nalar dan rasa, antara pencarian dan perenungan. Dari Dhani hingga Dumasi, tujuh pelukis ini menghadirkan renjana yang berbeda, namun bersatu dalam spirit yang sama: hasrat mencipta yang tak henti, the driving force yang membuat mereka utuh sebagai manusia dan seniman. Di Balai Budaya, Renjana bukan hanya dilihat, namun dirasakan. (baw; foto hpr)


Share Tweet Send
0 Komentar
Memuat...
You've successfully subscribed to Indonesia Senang Dot Com - Semampu kita bisa dan lakukan keSENANGanmu
Great! Next, complete checkout for full access to Indonesia Senang Dot Com - Semampu kita bisa dan lakukan keSENANGanmu
Welcome back! You've successfully signed in
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.