Indonesiasenang-, Nuanu Creative City semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat ekosistem kreatif paling progresif di Indonesia. Kawasan kreatif terpadu yang menggabungkan seni, budaya, teknologi, hingga keberlanjutan lingkungan itu mendapat apresiasi langsung dari Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Irene Umar saat melakukan kunjungan kerja di Tabanan, Bali, Jumat (08/05/2026).
Dalam peninjauan tersebut, Irene Umar menyebut Nuanu Creative City sebagai representasi masa depan industri kreatif Indonesia yang mampu menghadirkan pengalaman imersif berbasis seni dan teknologi tanpa meninggalkan akar budaya lokal.
“Nuanu Creative City bukan sekadar kawasan fisik, melainkan manifestasi nyata dari masa depan ekonomi kreatif Indonesia. Kami hadir untuk memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan kawasan yang mampu menggabungkan pengalaman immersive dengan komitmen sustainable living”, kata Irene Umar.
Kunjungan itu turut didampingi Staf Khusus Menteri Bidang Penguatan Ekosistem Ekonomi Kreatif dan Data, Jago Anggara, serta Tenaga Ahli Bidang Regulasi dan Kelembagaan, Dahana Esa Putera.
Sebagai kawasan ekonomi kreatif seluas 44 hektare, Nuanu menghadirkan perpaduan unik antara eksplorasi artistik, inovasi digital, dan konservasi alam. Filosofi Bali, Tri Hita Karana, menjadi fondasi utama pengembangan kawasan dengan menitikberatkan harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas.
Konsep tersebut terlihat nyata melalui berbagai ruang kreatif yang tersebar di area Nuanu. Mulai dari instalasi seni monumental Earth Sentinels, eksplorasi multimedia berbasis AI di Aurora Media Park, hingga kawasan konservasi flora dan fauna di Magic Garden. Keseluruhan elemen itu dirancang menjadi pengalaman lintas disiplin yang memadukan seni kontemporer dengan kesadaran ekologis.
Tak hanya menjadi ruang pamer karya kreatif modern, Nuanu juga memberi ruang besar bagi pelestarian budaya lokal melalui Art Village. Area ini menjadi tempat para perajin tradisional Bali memperkenalkan teknik kerajinan kepada masyarakat dan generasi muda lewat pendekatan edukatif dan kolaboratif.
Menurut Irene Umar, pendekatan yang dilakukan Nuanu menunjukkan bahwa teknologi digital dapat berjalan berdampingan dengan pelestarian budaya dan lingkungan. “Kawasan ini adalah bukti nyata bahwa teknologi digital dan pelestarian alam bisa berjalan beriringan. Saya bangga melihat karya anak bangsa yang mampu bersaing di level dunia tanpa meninggalkan identitas lokal”, ujarnya.
Nuanu juga mengusung prinsip keberlanjutan yang cukup ketat. Dari total kawasan yang ada, hanya sekitar 30 persen lahan yang dibangun, sementara 70 persen lainnya dipertahankan sebagai ruang hijau. Mobilitas di kawasan ini pun mulai mengadopsi konsep zero emission melalui penggunaan kendaraan listrik.
Di tengah berkembangnya industri kreatif global yang semakin kompetitif, Nuanu Creative City hadir sebagai model baru creative hub Indonesia yang tidak hanya berorientasi ekonomi, tetapi juga memperhatikan dampak sosial dan lingkungan. Kehadiran Nuanu Kids Academy, misalnya, menjadi bentuk nyata investasi jangka panjang terhadap regenerasi kreatif dengan menyediakan pendidikan seni gratis bagi anak-anak di sekitar kawasan.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana industri kreatif kini berkembang melampaui fungsi komersial semata. Seni tidak lagi hanya menjadi produk estetika, tetapi juga medium edukasi, konservasi, pemberdayaan masyarakat, hingga diplomasi budaya.
Melalui dukungan Kementerian Ekonomi Kreatif, pengembangan kawasan kreatif berbasis budaya dan keberlanjutan seperti Nuanu diharapkan dapat menjadi katalis pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif nasional. Tidak hanya memperkuat identitas budaya Indonesia di mata dunia, tetapi juga membuka peluang baru bagi kolaborasi industri kreatif internasional yang lebih inklusif dan berkelanjutan. (dewa; foto bkkek)