Indonesiasenang-, Jakarta, September 2025 – Definisi pahlawan memang beragam. Namun secara umum, pahlawan adalah sosok yang menyelamatkan, menginspirasi, dan memberi arti dalam kehidupan orang lain. Tak jarang, tokoh pahlawan lahir dari imajinasi masyarakat dan dituangkan dalam karya seni, termasuk film.
Untuk memperkuat narasi kepahlawanan di perfilman nasional, Kementerian Kebudayaan menggelar diskusi dan sosialisasi program SINEMA (Skenario Inspiratif Nasional Ekspresi Merawat Asa) di Gedung A Lantai 3 Komplek Kemendikbudristek, Senayan, Jakarta. Acara ini menjadi langkah penting dalam menghidupkan kembali narasi kepahlawanan dalam film Indonesia.

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menyampaikan apresiasi kepada insan perfilman yang terus berkontribusi dalam mengembangkan ekosistem film lokal.
“Kegiatan ini bagian dari upaya Kementerian Kebudayaan untuk mendukung perfilman Indonesia yang produktif. Kami sangat berterima kasih pada sineas dan industri film yang terus menghasilkan karya berkualitas,” ujar Fadli.
Ia juga memberi dukungan kepada sineas yang tampil di Festival Film Internasional Busan 2025 (17–25 September 2025), sebagai bukti nyata promosi film Indonesia di kancah global.
SINEMA: Ruang Kreatif Penulis Naskah Kepahlawanan
Program SINEMA menghadirkan ruang kreatif bagi para penulis skenario untuk merumuskan kembali makna kepahlawanan melalui kompetisi penulisan naskah. Tujuannya, melahirkan cerita-cerita inspiratif, autentik, dan relevan dengan generasi muda.

Dalam sesi NGOFI (Ngobrol Film): Tantangan dan Peluang Film Narasi Kepahlawanan, hadir sejumlah narasumber ternama seperti Celerina Judisari (produser), Rahabi Mandra (penulis & sutradara), serta Robby Ertanto (sutradara). Aktor Rizal Djibran juga turut berbagi pandangan mengenai tantangan teknologi, termasuk keterlibatan AI dalam produksi film.
Dalam diskusi mengenai kepahlawanan, beberapa poin penting yang dibahas antara lain:
- Menyajikan film sejarah dengan kemasan menarik agar diminati generasi muda. Jarak peristiwa atau rentang waktu pada saat dulu terjadi semestinya dapat dituangkan dengan cara pengemasan yang tepat pada waktu saat ini.
- Mengemas film sejarah agar menarik, memilih narasi pahlawan, baik dari tokoh nyata maupun tokoh baru.
- Mengangkat pahlawan yang jarang dikenal publik.
- Pentingnya riset mendalam, pendanaan, serta distribusi yang tepat.

Selaras dengan hal tersebut, Rahabi Mandra selaku penulis dan sutradara turut menyampaikan strateginya dalam promosi sinema kepahlawanan. “Kalau cerita autentik dan menyentuh, akan ada perhatian global. Film kepahlawanan harus dikemas dengan tepat agar berdampak pada masyarakat,” jelas Rahabi Mandra.
Para pelaku industri juga menekankan pentingnya kolaborasi antara sineas dengan akademisi, psikolog, hingga komunitas agar film bertema kepahlawanan tidak hanya inspiratif, tetapi juga emosional dan relevan secara budaya. (kintan; praba)