Indonesiasenang-, Di Banyumas, budaya tidak hanya hidup di panggung seni dan upacara adat, tetapi juga menjelma dalam keseharian warganya, termasuk di dapur rumah. Dari ruang inilah Diana Lyntusari merawat identitas lokal melalui karya kuliner. Sosok yang pernah menyandang Duta Wisata Banyumas ini kini dikenal sebagai pemilik Sari Asian Food, usaha kuliner yang lahir dari perjalanan panjang seni, tradisi, dan keberanian untuk kembali ke akar.

Kedekatan Diana Lyntusari dengan budaya Banyumas bermula sejak usia dini. Orang tuanya mengenalkannya pada dunia tari tradisional melalui sanggar. Sejak taman kanak-kanak, tubuhnya telah terbiasa bergerak mengikuti irama, memahami makna gerak, serta menghormati proses, sebagai nilai-nilai penting dalam budaya Jawa yang kemudian membentuk karakternya hingga dewasa.

Kecintaan pada seni terus tumbuh di masa remaja. Di bangku SMP dan SMA, Diana Lyntusari aktif dalam ekstrakurikuler tari dan kerap mewakili sekolah hingga tingkat provinsi. Puncaknya terjadi pada tahun 2003 saat ia dinobatkan sebagai Juara 1 dan Juara Favorit Duta Wisata Banyumas. Peran tersebut bukan sekadar gelar, melainkan amanah untuk mengenalkan potensi budaya daerah kepada masyarakat luas.

Pengalaman itulah yang memperkuat ikatan Diana Lyntusari dengan tanah kelahirannya. Meski sempat merantau dan berkarier sebagai pramugari, nilai-nilai budaya Banyumas tetap ia bawa. Ketika pandemi Covid-19 memaksanya pulang dan memulai ulang kehidupan, Diana justru melihat momen itu sebagai panggilan untuk kembali membangun dari daerah asal.

Tanpa jaringan dan pasar yang mapan, Diana Lyntusari memilih langkah yang selaras dengan karakter masyarakat Banyumas yang sederhana, sabar, dan tekun. Ia memulai usaha kuliner dari produk kue kering yang tahan lama dan mudah dikirim ke luar kota. Proses trial and error ia jalani dengan telaten, hingga produknya mendapat respons positif dan bertahan dalam jangka panjang.

Seiring waktu, lingkungan sekitar mulai mengenal karyanya. Permintaan kue basah dan roti sebagai oleh-oleh khas semakin sering datang. Diana Lyntusari pun jeli membaca dinamika kuliner lokal di Purwokerto, termasuk meningkatnya minat pada bolu chiffon sebagai sajian modern yang mudah diterima lintas generasi.

Meski mengusung produk kekinian, Diana Lyntusari tetap membawa filosofi lokal dalam prosesnya. Ketelitian, kesabaran, dan rasa tanggung jawab terhadap kualitas adalah nilai yang ia pelajari sejak menekuni tari tradisional. Ia mengikuti kursus, belajar langsung dari mentor, lalu kembali mengolah resep di dapur rumah hingga menemukan formula terbaik, sebuah proses yang mencerminkan etos kerja masyarakat Banyumas.

Momentum besar hadir menjelang Lebaran 2022. Dengan semangat gotong royong dan keberanian memanfaatkan jejaring personal, Diana Lyntusari mempromosikan produknya secara luas. Respons pasar menunjukkan bahwa karya lokal dengan rasa dan cerita yang kuat selalu punya tempat di hati konsumen.
Kini, Sari Asian Food tak sekadar menjadi usaha kuliner rumahan, tetapi juga representasi bagaimana budaya lokal bisa bertransformasi tanpa kehilangan jati diri. Dari panggung tari hingga dapur produksi, Diana Lyntusari membuktikan bahwa budaya Banyumas dapat hidup dan berkembang lewat rasa, proses, dan ketulusan.

Di tengah arus modernisasi, kisah Diana Lyntusari menjadi pengingat bahwa kembali ke akar bukanlah langkah mundur. Justru dari sanalah kekuatan budaya lokal menemukan bentuk barunya, lebih dekat, lebih relevan, dan tetap bermakna. (ridho; foto djo)