Indonesiasenang-, Di Bali, Ramadan tidak hanya hadir lewat azan magrib dan lampu-lampu masjid. Di beberapa sudut desa, bulan suci itu juga datang lewat satu nampan besar berisi nasi putih, lauk sederhana, dan orang-orang yang duduk melingkar tanpa sekat. Tradisi itu bernama Megibung, sebuah warisan budaya yang menjelma jembatan toleransi lintas iman.

Meski Bali dikenal sebagai pulau dengan mayoritas penduduk Hindu, praktik Megibung justru memperlihatkan wajah lain Bali: ruang perjumpaan yang hangat antara budaya, sejarah, dan nilai religius. Tradisi makan bersama ini berakar dari budaya Hindu Bali, namun kini hidup berdampingan dan diadaptasi oleh komunitas Muslim sebagai bagian dari penyambutan Ramadan, terutama saat buka puasa bersama.

Sejarah Megibung tak bisa dilepaskan dari sosok I Gusti Agung Anglurah Ketut Karangasem. Pada abad ke-17, raja Karangasem ini memperkenalkan kebiasaan makan bersama kepada para prajuritnya saat ekspedisi ke Lombok.

Dalam kondisi perang yang keras, sang raja justru menanamkan nilai kesetaraan. Prajurit dan pemimpin duduk melingkar, menyantap makanan dari satu wadah yang sama. Tak ada hierarki, tak ada jarak. Dari kebiasaan itulah Megibung lahir dan terus bertahan sebagai filosofi hidup masyarakat Bali.

Megibung bukan sekadar makan ramai-ramai. Ia dimulai sejak proses memasak yang dilakukan bersama. Nasi putih disajikan dalam satu wadah besar bernama gibungan, sementara lauk pauk dan sayur disebut karangan.

Semua duduk sama rata, makan dengan tangan, tanpa piring, tanpa sendok. Ada etika yang dijaga: mencuci tangan sebelum makan, tidak menjatuhkan sisa makanan, tidak serakah mengambil lauk, dan tidak meninggalkan lingkaran sebelum semua selesai. Aturan yang tidak tertulis, namun dipatuhi sebagai bentuk penghormatan terhadap sesama.

Di wilayah Karangasem, tradisi Megibung tetap hidup dalam berbagai upacara adat seperti pernikahan, odalan di pura, ngaben, hingga hajatan keluarga. Namun dalam perkembangannya, Megibung juga menemukan makna baru di bulan Ramadan.

Komunitas Muslim Bali mengadaptasi tradisi ini sebagai cara berbuka puasa bersama, biasanya dilakukan setiap sepuluh hari, yaitu hari ke-10, 20, dan 30 Ramadan. Yang istimewa, Megibung Ramadan kerap melibatkan warga lintas agama. Umat Hindu turut hadir, duduk melingkar, berbagi makanan dan cerita. Di sinilah Megibung menjelma simbol panyama braya, persaudaraan tanpa batas keyakinan.

Di balik satu nampan nasi, Megibung menyimpan pesan yang relevan hingga hari ini:

- Kesetaraan, karena semua duduk sejajar tanpa memandang status.

- Kebersamaan, karena makan bersama menciptakan ikatan emosional.

- Rasa syukur, karena berbagi mengajarkan cukup dan saling menghargai.

- Pewarisan budaya, karena generasi muda belajar nilai adat lewat praktik nyata.

Di era modern, Megibung tidak luntur. Tradisi ini justru diadopsi dalam pertemuan desa, kegiatan kampus, hingga dikemas sebagai pengalaman budaya bagi wisatawan. Media sosial turut memperluas gaungnya, menjadikan Megibung bukan hanya ritual lokal, tetapi simbol toleransi Bali yang menginspirasi banyak orang.

Megibung membuktikan bahwa makan bukan sekadar memenuhi perut. Ia adalah bahasa budaya, cara merawat persaudaraan, dan wujud syukur atas rezeki yang dibagi bersama. Di Bali, Ramadan pun menemukan maknanya sendiri, terasa hangat, bersahaja, dan penuh kebersamaan di atas satu nampan yang menyatukan banyak perbedaan. (januar; foto dispar)