Indonesiasenang-, Ajang lari kini tak lagi sekadar kompetisi olahraga. Di berbagai kota besar, event lari telah berkembang menjadi ruang pertemuan gaya hidup, pariwisata, hingga ekonomi kreatif. Hal inilah yang ingin dihadirkan dalam Malang Half Marathon 2026 yang akan digelar pada 26 April 2026 di Kota Malang.
Acara ini resmi diperkenalkan dalam konferensi pers di The St. Regis Jakarta yang dihadiri oleh Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekraf Teuku Riefky Harsya (09/03/202). Kehadirannya menandai dukungan pemerintah terhadap kolaborasi lintas sektor yang memadukan olahraga, pariwisata, serta ekonomi kreatif dalam satu ekosistem.
Menurut Teuku Riefky, event olahraga berskala nasional seperti Malang Half Marathon memiliki dampak luas terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

“Event seperti ini memiliki multiplier effect yang besar bagi pelaku ekonomi kreatif, khususnya di Kota Malang dan Malang Raya. Kehadiran ribuan pelari dan wisatawan membuka peluang bagi berbagai subsektor ekonomi kreatif mulai dari kuliner, fesyen, musik hingga konten digital”, kata Teuku Riefky.
Konferensi pers tersebut juga dihadiri Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa, Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni Raffi Ahmad, serta Founder MS Glow For Men Shandy Purnamasari.
Kehadiran berbagai tokoh lintas sektor ini menunjukkan bahwa Malang Half Marathon tidak hanya dipandang sebagai ajang olahraga, tetapi juga sebagai strategi pengembangan sport tourism di Indonesia.
Secara global, wisata olahraga memang menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan paling cepat. Hal ini juga disoroti Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir yang menilai tren event lari di Indonesia terus berkembang.
Menurut Erick Thohir, kolaborasi hexahelix yang melibatkan pemerintah, komunitas, pelaku usaha, akademisi, media, dan masyarakat menjadi kunci memperkuat ekosistem olahraga dan pariwisata. “Sport tourism memiliki potensi ekonomi yang sangat besar secara global. Karena itu kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan sektor privat menjadi penting agar ekosistem olahraga dan pariwisata di Indonesia dapat terus berkembang”, ujarnya.

Sementara itu Founder Malang Half Marathon sekaligus pengusaha Gilang Widhia Pramana menjelaskan bahwa event ini lahir dari semangat Running for Passion. Bagi Gilang, lari kini telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban di Indonesia.
“Olahraga lari saat ini sudah menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia. Melalui Malang Half Marathon, kami ingin menghadirkan platform besar yang tidak hanya tentang lomba lari, tetapi juga membawa pesan tentang gaya hidup sehat, pariwisata, dan pertumbuhan ekonomi kreatif”, jelas Gilang Widhia Pramana.
Event ini menghadirkan tiga kategori lomba yaitu 21K, 10K, dan 5K, sehingga dapat diikuti oleh pelari profesional maupun komunitas lari rekreasional. Dengan target lebih dari 7.000 peserta dari berbagai kota, penyelenggara memperkirakan perputaran ekonomi dari acara ini dapat mencapai sekitar Rp20 miliar.
Penyelenggaraan event ini juga dianggap tepat karena Malang memiliki ekosistem kreatif yang kuat. Kota ini bahkan menjadi bagian dari UNESCO Creative Cities Network yang menunjukkan kapasitasnya dalam inovasi dan kreativitas.
Selain lintasan lari yang menawarkan panorama kota dan udara pegunungan yang sejuk, para peserta juga akan disuguhkan pengalaman wisata khas Malang mulai dari kuliner lokal, produk UMKM, hingga panggung kreator dan brand lokal.

Dengan konsep tersebut, Malang Half Marathon 2026 diharapkan bukan hanya menjadi agenda olahraga tahunan, tetapi juga festival gaya hidup sehat yang mempertemukan olahraga, wisata, dan kreativitas dalam satu perayaan besar.
Bagi pelari dan wisatawan, ajang ini menjadi kesempatan untuk berlari sambil menikmati pesona Malang, sebuah kota yang semakin dikenal sebagai destinasi sport tourism baru di Indonesia. (kelvin; foto bkke)