Makan Bajamba, Diplomasi Kuliner Indonesia di WCCE 2026

Tradisi makan bajamba hadir dalam Diplomatic Dinner WCCE 2026, memperkenalkan kekayaan kuliner, budaya, dan nilai kebersamaan Indonesia ke dunia

Makan Bajamba, Diplomasi Kuliner Indonesia di WCCE 2026

Indonesiasenang-, Kekayaan kuliner Indonesia tidak hanya menawarkan beragam cita rasa, tetapi juga menyimpan nilai tradisi, budaya, dan kebersamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Melalui makanan, Indonesia memiliki cara tersendiri untuk memperkenalkan identitas bangsa sekaligus membangun keakraban dengan masyarakat dari berbagai negara.

Semangat tersebut terasa dalam acara Diplomatic Dinner: A Gathering in the Sky, bagian dari rangkaian The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 yang berlangsung di Jakarta. Jamuan makan malam yang mempertemukan delegasi internasional ini menghadirkan kekayaan gastronomi Nusantara dengan mengangkat inspirasi tradisi Minangkabau, khususnya makan bajamba.

Makan bajamba merupakan tradisi masyarakat Minangkabau yang mengedepankan nilai kebersamaan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap sesama. Dalam tradisi ini, makanan dinikmati bersama dengan tata cara tertentu yang mencerminkan hubungan sosial serta identitas budaya masyarakat Sumatera Barat.

Nilai tersebut menjadi inspirasi dalam penyelenggaraan jamuan diplomatik WCCE 2026. Para tamu dari berbagai negara tidak hanya diajak menikmati hidangan khas Indonesia, tetapi juga diperkenalkan pada filosofi budaya yang terkandung di balik tradisi makan bersama.

Suasana Minangkabau semakin terasa melalui konsep dekorasi yang terinspirasi dari Rumah Gadang, rumah adat Sumatera Barat yang merepresentasikan persatuan, kekerabatan, dan identitas kolektif. Penyambutan delegasi juga dimeriahkan Tari Pasambahan, sementara Tari Piring memperlihatkan keindahan seni pertunjukan tradisional Minangkabau.

Di meja jamuan, para tamu disuguhkan beragam makanan khas Nusantara. Mulai dari lotek, asinan Bogor, sop buntut, sayur asem, rendang, ayam pop, pepes tahu, hingga sate. Sementara itu, es teler turut melengkapi pengalaman bersantap sebagai hidangan penutup.

Keberagaman menu tersebut memperlihatkan luasnya khazanah kuliner Indonesia yang memiliki karakter rasa dan cerita berbeda dari setiap daerah. Hidangan tradisional menjadi bagian penting dalam memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada para delegasi internasional.

Salah satu sajian yang mendapat perhatian adalah rendang dan ayam pop dari kuliner Minangkabau. Ferry Nandarsyah, Manager Area Restoran Pagi Sore, menjelaskan bahwa kedua hidangan tersebut merupakan menu favorit pelanggan yang turut dihadirkan dalam jamuan makan malam tersebut.

Menurut Ferry, esensi makan bajamba bukan semata-mata terletak pada banyaknya makanan yang tersaji, melainkan nilai kebersamaan yang menjadi dasar tradisi tersebut.

“Sebetulnya makan bajamba ini nilai utamanya adalah kebersamaan. Ada beberapa menu yang disajikan dan dinikmati oleh banyak kalangan atau banyak orang. Jadi, pada intinya, bajamba ini nilainya kebersamaan,” ujar Ferry.

Ia menjelaskan, tradisi makan bajamba memiliki makna sosial yang kuat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Makanan menjadi sarana mempertemukan banyak orang tanpa membedakan latar belakang, sekaligus membangun hubungan persaudaraan dan rasa saling menghormati.

Karena itu, makan bajamba tidak sekadar dimaknai sebagai kegiatan menikmati hidangan bersama. Ada tata cara, nilai, dan filosofi yang melekat serta menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Minangkabau.

Dalam konteks diplomasi internasional, nilai tersebut memiliki relevansi tersendiri. Jamuan makan malam dapat menjadi ruang perjumpaan yang lebih cair bagi para delegasi, sekaligus membuka kesempatan untuk mengenal kebudayaan Indonesia melalui pengalaman langsung.

Kuliner juga menjadi salah satu kekuatan ekonomi kreatif Indonesia. Kekayaan resep tradisional, teknik pengolahan bahan, rempah-rempah, hingga kebiasaan masyarakat dalam menyajikan makanan merupakan bagian dari identitas budaya yang memiliki potensi untuk diperkenalkan ke pasar internasional.

Melalui Diplomatic Dinner WCCE 2026, Indonesia memperlihatkan bahwa diplomasi budaya tidak selalu harus disampaikan melalui pidato atau forum resmi. Tradisi, seni pertunjukan, arsitektur, dan makanan dapat menjadi media komunikasi yang mempertemukan berbagai bangsa.

Dari filosofi Rumah Gadang, keindahan Tari Piring, hingga kelezatan rendang dan ayam pop, setiap unsur yang dihadirkan membawa cerita tentang keberagaman Indonesia.

Lebih dari sekadar jamuan makan malam, pertemuan tersebut menjadi kesempatan memperkenalkan kekayaan kuliner dan tradisi Nusantara kepada dunia. Sebab, di balik setiap hidangan yang tersaji, terdapat sejarah, identitas, serta nilai kebersamaan yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia. (fathur; foto bkke)


Share Tweet Send
0 Komentar
Memuat...
You've successfully subscribed to Indonesia Senang Dot Com - Semampu kita bisa dan lakukan keSENANGanmu
Great! Next, complete checkout for full access to Indonesia Senang Dot Com - Semampu kita bisa dan lakukan keSENANGanmu
Welcome back! You've successfully signed in
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.