Indonesiasenang-, Di bawah gemuruh kereta yang melintas di Stasiun MRT Blok M, Kamis malam, 26 Februari 2026, ruang publik yang biasanya riuh oleh percakapan dan derap langkah berubah menjadi panggung sunyi yang menyimpan getar. Di tengah kerumunan warga yang pulang kerja, sesosok perempuan berdiri anggun dalam balutan aura mencekam. Ia adalah Luna Maya, namun malam itu ia bukan sekadar bintang film. Ia menjelma bayang-bayang sejarah horor Indonesia.
Dalam cahaya lampu kota yang temaram, Luna Maya membuka poster raksasa bertuliskan SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa. Aksi tersebut sontak menyedot perhatian. Wajahnya tampak berbeda, pucat, dingin, tetapi tetap memancarkan keanggunan yang tak bisa diabaikan. Inilah momentum promosi yang tak biasa, bukan konferensi pers di hotel mewah, melainkan ritual simbolik di ruang urban yang hidup 24 jam.
Bagi Luna Maya, membawa sosok Suzzanna ke Blok M bukan sekadar strategi promosi. Itu adalah gestur penghormatan pada legenda. Nama Suzzanna bukan sekadar aktor era 1970–1980-an, ia adalah ikon budaya populer yang membentuk lanskap horor Indonesia. Dari generasi orang tua hingga Gen Z yang mengenalnya lewat layar digital, Suzzanna tetap menjadi rujukan ketika publik membicarakan horor klasik Nusantara.
“Beliau adalah ikon, legenda yang tak pernah benar-benar pergi”, ujar Luna Maya di hadapan warga yang memadati area bawah stasiun.
Poster yang dibentangkannya menghadirkan detail ikonik, roncean bunga melati yang melingkari tubuhnya. Melati sebagai simbol kesucian sekaligus aroma kematian dalam banyak mitologi lokal menjadi penanda kuat karakter Suzzanna sejak film-film klasiknya. Dalam versi terbaru ini, elemen itu dihidupkan kembali, bukan sebagai tempelan estetika, melainkan simbol sejarah.
Luna Maya bahkan mengisahkan bagaimana saat syuting ia mencoba menggigit bunga melati tersebut. Rasanya pahit, katanya, tetapi aromanya begitu wangi. Sebuah metafora yang seolah merangkum film ini dengan pahitnya dendam, wangi cinta yang membayangi.
Diproduksi oleh Soraya Intercine Films, film ini menjadi satu-satunya proyek layar lebar Luna Maya sepanjang 2026, sebuah keputusan yang menandakan keseriusan sekaligus taruhan besar.
Secara historis, IP Suzzanna telah mengalami berbagai tafsir ulang. Namun SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa berusaha membawa karakter tersebut ke level yang lebih kontemporer tanpa mencabut akarnya. Film ini tidak hanya bermain pada teror visual, tetapi juga menggali dimensi sosial dan spiritual yang lekat dengan tradisi santet dalam kultur Nusantara, tema yang sejak lama menjadi bagian dari narasi horor Indonesia.
Dalam film ini, Suzzanna yang diperankan oleh Luna Maya diceritakan sebagai perempuan yang dicintai Bisman (Clift Sangra), penguasa desa yang kejam. Namun ambisi mengubah cinta menjadi petaka. Bisman menyantet ayah Suzzanna hingga tewas demi mempertahankan kekuasaan.
Duka berubah menjadi bara dendam. Suzzanna mempelajari ilmu santet untuk membalas kematian ayahnya. Namun semakin dalam ia menyelami ilmu hitam, semakin ia menyadari bahwa kekuatan Bisman jauh melampaui bayangannya.
Di tengah pusaran gelap itu, hadir Pramuja, pria taat agama yang diperankan Reza Rahadian. Cinta tumbuh di antara rahasia dan kutukan. Pramuja tak mengetahui sisi gelap Suzzanna, bahwa perempuan yang ia cintai sedang berjalan di jalur ilmu hitam.
Konflik batin menjadi inti, akankah Suzzanna menuntaskan dendamnya, atau memilih cinta yang mungkin menjadi satu-satunya jalan menuju keselamatan?
Menariknya, film ini dijadwalkan tayang pada Lebaran 2026, sebuah momen yang identik dengan kebersamaan keluarga dan film blockbuster. Di tengah tradisi komedi dan drama keluarga, horor legendaris ini justru hadir sebagai pilihan alternatif. Sebuah langkah berani yang menempatkan teror sebagai bagian dari perayaan.
Promosi di Blok M menjadi pembuka dari rangkaian kampanye yang kemungkinan akan memadukan nostalgia, sejarah perfilman, dan pendekatan urban modern. Luna Maya, dengan transformasi visualnya, menjadi jembatan antara generasi lama yang merindukan aura klasik Suzzanna dan generasi baru yang haus reinterpretasi.
Di bawah rel MRT yang terus bergetar, poster itu berdiri tegak. Seolah mengingatkan bahwa legenda tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya menunggu waktu untuk bangkit dengan wajah baru, dendam lama, dan cinta yang terancam oleh dosa di atas dosa. (kelvin; foto hsif)