Indonesiasenang-, Memaknai kemerdekaan tak selalu harus lewat cerita tentang perang, pahlawan, atau perjuangan di medan tempur. Ada bentuk perjuangan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: menjaga keluarga, merawat kenangan, mempertahankan nilai yang diyakini, hingga tetap mencintai orang-orang di sekitar.
Gagasan itulah yang coba dihadirkan Teater Pandora melalui pertunjukan “Bulang Trang, Nona” di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta. Dipentaskan dalam rangkaian program seni bertema perjuangan selama bulan kemerdekaan, pertunjukan ini menawarkan cara yang lebih personal untuk melihat kembali arti patriotisme.
“Bulang Trang, Nona” dalam bahasa Ambon berarti “Terang Bulan, Nona”. Disutradarai oleh Yoga Mohamad, pertunjukan ini membawa penonton masuk ke dalam ingatan Wilson, seorang pejuang muda yang tengah bertugas di Irian Barat.
Di tengah perjuangannya, Wilson harus berhadapan dengan kondisi yang membuat ingatannya perlahan memudar akibat penyakit malaria. Dari sinilah cerita bergerak. Penonton diajak mengikuti serpihan kenangan Wilson tentang masa kecilnya bersama Mama dan tiga tantenya di Ambon pada 1936.
Ingatan tersebut kemudian menjadi pintu masuk menuju kisah tentang keluarga, persahabatan, cinta, sekaligus nilai-nilai yang membentuk perjalanan hidup seseorang.
Menariknya, “Bulang Trang, Nona” tidak sekadar mengandalkan pementasan di atas panggung. Sebelum memasuki auditorium, penonton terlebih dahulu diajak mengikuti pengalaman imersif bertajuk Pesta Trang Bulan di area selasar Galeri Indonesia Kaya.
Suasana pesta dansa muda-mudi dibangun melalui iringan musik dari Orkes Antariksa, lomba pantun rayu, serta sejumlah elemen interaktif. Pengalaman tersebut membuat penonton seolah diajak masuk lebih dulu ke dunia yang menjadi bagian dari cerita.
Setelah suasana Ambon masa itu terbangun, barulah penonton memasuki auditorium untuk menyaksikan kisah utama Wilson.
Secara penceritaan, “Bulang Trang, Nona” menggunakan pendekatan memory play. Drama dimainkan secara realis, tetapi alurnya bergerak melalui potongan-potongan ingatan. Kenangan Wilson yang muncul dan menghilang menjadi cara pertunjukan ini menyampaikan cerita sekaligus menghadirkan refleksi tentang perjuangan.
Selama lebih dari 60 menit, perpaduan drama realis, musik, tata artistik, dan permainan ingatan membuat cerita terasa lebih emosional. Alih-alih menempatkan patriotisme sebagai sesuatu yang jauh dan heroik, pertunjukan ini justru membawanya ke ruang yang lebih sederhana dan manusiawi.
Yoga Mohamad menjelaskan bahwa gagasan tersebut menjadi salah satu hal yang ingin disampaikan melalui pementasan ini. “Hari ini patriotisme sering kali hanya dimaknai sebagai kisah kepahlawanan atau perjuangan di medan perang. Padahal, setiap orang memiliki perjuangannya masing-masing dalam kehidupan sehari-hari”, ujarnya.
Menurut Yoga Mohamad, perjuangan juga bisa hadir dalam hal-hal sederhana yang kerap luput dilihat sebagai bentuk patriotisme. “Melalui pertunjukan Bulang Trang, Nona, kami ingin mengajak penonton melihat bahwa menjaga keluarga, merawat kenangan, mencintai sesama, dan terus bertahan menghadapi berbagai tantangan hidup juga merupakan bentuk patriotisme. Sebab pada akhirnya, patriotisme sejatinya adalah cinta”, lanjutnya.
Pesan tersebut menjadi kekuatan utama pertunjukan. “Bulang Trang, Nona” tidak memaksa penonton melihat patriotisme dalam skala besar, tetapi mengajak setiap orang bercermin pada perjuangannya sendiri.
Ada keluarga yang harus dijaga, kenangan yang ingin dipertahankan, orang-orang yang tetap dicintai, dan berbagai tantangan hidup yang harus dilewati. Dari hal-hal sederhana itulah rasa cinta terhadap sesama dan tanah air bisa tumbuh.
Bagi Teater Pandora, pementasan ini juga menjadi kolaborasi ketujuh bersama Galeri Indonesia Kaya. Sebelumnya, keduanya telah bekerja sama melalui sejumlah produksi seperti “Perkawinan”, “Seruni”, “Sementara Tetangga”, “Kerlip”, dan “Kurasi di Muka Rumah”.
Lewat “Bulang Trang, Nona”, perayaan bulan kemerdekaan pun terasa lebih personal. Bukan hanya tentang mengingat mereka yang pernah berjuang, tetapi juga menyadari bahwa setiap orang punya bentuk perjuangannya sendiri. (kintan; foto praba)