Konser Tribute To 2D, Warisan Musik Deddy Dhukun dan Dian Pramana Poetra Kembali Bergema

Konser Tribute To 2D menghidupkan kembali karya Deddy Dhukun dan Dian Pramana Poetra lewat kolaborasi musisi lintas generasi

Konser Tribute To 2D, Warisan Musik Deddy Dhukun dan Dian Pramana Poetra Kembali Bergema

Indonesiasenang-, Lagu-lagu karya duo legendaris Deddy Dhukun dan almarhum Dian Pramana Poetra kembali bergema dalam “Konser Tribute To 2D” yang berlangsung di deConcert Room, Deheng House, Kemang, Jakarta Selatan (26/08/2026).

Konser tersebut menjadi ruang pertemuan antara nostalgia, penghormatan terhadap perjalanan musik 2D, serta kolaborasi musisi dari berbagai generasi. Sejumlah lagu yang pernah menjadi bagian penting dari perjalanan musik Indonesia dibawakan kembali dengan karakter dan interpretasi berbeda.

Dipersembahkan Deheng House bersama Bookcabin dan DMC, konser ini dikemas sebagai pertunjukan eksklusif yang tidak hanya mengandalkan nostalgia. Setiap penampilan dirancang untuk membawa penonton kembali mengenang karya 2D sekaligus melihat bagaimana lagu-lagu tersebut tetap relevan ketika dibawakan oleh musisi lintas generasi.

Acara yang dimulai pukul 20.00 WIB itu dipandu Ade Andrini dan dibuka Pesona Tiga Suara. Grup musik yang terdiri dari anak-anak Deddy Dhukun dan Dian Pramana Poetra tersebut tampil membawakan sejumlah lagu 2D, seperti “Jatuh Hatiku”, “Esok Kan Masih Ada”, “Sepanjang Jalan Tol”, dan “Bohong”.

Kehadiran Pesona Tiga Suara menjadi salah satu pesan penting dalam konser tersebut. Warisan musikal 2D tidak hanya dikenang, tetapi juga diteruskan oleh generasi berikutnya.

Suasana kemudian berubah ketika Shandy Sondoro tampil membawakan “Semua Jadi Satu”, “Jakarta”, dan “Aku Jadi Bingung”. Dengan karakter vokal yang bluesy, Shandy Sondoro memberikan interpretasi berbeda terhadap lagu-lagu tersebut tanpa menghilangkan kekuatan melodinya.

Andien kemudian menghadirkan nuansa yang lebih lembut dan jazzy melalui “Aku Ini Punya Siapa”, “O Ya”, dan “Kau Seputih Melati”.

Kolaborasi antargenerasi semakin terasa karena setiap penyanyi tidak sekadar menyanyikan kembali lagu 2D, tetapi memberikan identitas musikal masing-masing. Hal itu membuat lagu-lagu lama terdengar lebih segar bagi penonton dari generasi yang berbeda.

Penampilan para penyanyi tersebut semakin solid dengan dukungan Audiensi Band. Pengalaman mereka sebagai band pengiring sejumlah penyanyi papan atas membuat aransemen sepanjang konser terdengar matang dan dinamis.

Sebelum memasuki penampilan utama Deddy Dhukun, panggung diisi Wijaya 80 yang beranggotakan Ardhito Pramono, Erikson Jayanto, dan Hezky Joe.

Wijaya 80 membawakan “Yang Terbaik untuk Kita”, “Melati di Atas Bukit”, “Melayang”, dan “Keraguan”. Penampilan tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana karya-karya 2D dapat diterjemahkan kembali melalui perspektif generasi yang lebih muda.

Puncak konser kemudian tiba ketika Deddy Dhukun hadir di atas panggung. Suasana berubah menjadi lebih emosional karena Deddy harus menjalani penghormatan tersebut tanpa Dian Pramana Poetra, partner bermusiknya dalam 2D yang telah berpulang.

Deddy Dhukun membawakan sejumlah lagu, termasuk “Puji Syukur”, “Biru”, “Masih Ada”, “Sebelum Aku Pergi”, “Kusadari”, dan “Jalan Masih Panjang”.

Lagu-lagu tersebut terasa lebih personal ketika dinyanyikan langsung oleh Deddy. Bukan hanya menjadi rangkaian repertoar, setiap lagu seolah membawa kembali potongan perjalanan panjang 2D, mulai dari cinta, harapan, kehilangan hingga keteguhan menghadapi perjalanan hidup.

Penampilan Deddy Dhukun bersama para musisi tamu sekaligus menjadi grand closing yang mengikat keseluruhan konsep konser. Dari generasi penerus, musisi senior, hingga talenta generasi muda, seluruhnya bertemu dalam satu panggung untuk memberikan penghormatan kepada 2D.

Ditegaskan oleh Direktur Utama Deheng House, Amaliah Ananda Abadi, menegaskan bahwa penyelenggaraan konser tersebut merupakan bagian dari komitmen Deheng House dalam mendukung ekosistem musik Indonesia.

Menurut Amaliah Ananda Abadi, musik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga memiliki hubungan erat dengan perjalanan budaya dan identitas masyarakat.

Deheng House, lanjut Amaliah, ingin menjadi ruang terbuka bagi musisi dan kreator untuk bertemu, berkolaborasi, bereksperimen, serta memperkenalkan karya kepada audiens yang lebih luas.

“‘Konser Tribute To 2D’ adalah salah satu bentuk nyata dari semangat tersebut, menghormati perjalanan para legenda sekaligus membuka jalan bagi generasi berikutnya,” ujar Amaliah Ananda Abadi.

Harapan juga disampaikan oleh Amaliah Ananda Abadi, semoga dukungan terhadap musik Indonesia dapat dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya melalui satu pertunjukan.

“Harapannya, Deheng House dapat menjadi salah satu ruang yang mempertemukan talenta, karya, komunitas, dan penikmat musik dalam satu semangat: mencintai, menjaga, dan membawa musik Indonesia terus melangkah ke depan”, kata Amaliah Ananda Abadi.

“Konser Tribute To 2D” akhirnya menjadi lebih dari sekadar konser nostalgia. Pertunjukan tersebut memperlihatkan bagaimana karya Deddy Dhukun dan Dian Pramana Poetra tetap memiliki ruang di tengah perubahan zaman.

Ketika lagu-lagu 2D dinyanyikan kembali oleh musisi dengan karakter berbeda dan generasi yang berbeda pula, warisan musik tersebut tidak berhenti sebagai kenangan. Ia kembali hidup di atas panggung dan menemukan pendengarnya di generasi hari ini. (sugali; foto frns)


Share Tweet Send
0 Komentar
Memuat...
You've successfully subscribed to Indonesia Senang Dot Com - Semampu kita bisa dan lakukan keSENANGanmu
Great! Next, complete checkout for full access to Indonesia Senang Dot Com - Semampu kita bisa dan lakukan keSENANGanmu
Welcome back! You've successfully signed in
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.