Indonesiasenang-, JAKARTA – Batik dan denim mungkin datang dari dua karakter yang berbeda. Namun, di tangan para desainer, keduanya bisa bertemu menjadi karya fashion yang modern tanpa kehilangan akar budaya.

Gagasan tersebut hadir melalui KANVAS BUDAYA: SATU NAPAS, kolaborasi Indonesian Fashion Designer Council (IFDC) dan Bakti Budaya Djarum Foundation yang mengangkat Batik Kudus sebagai material utama.

Para desainer IFDC yang terlibat dalam KANVAS BUDAYA: SATU NAPAS

Sebanyak 23 desainer IFDC mendapatkan satu “kanvas” yang sama, yakni batik cap Kudus, untuk kemudian diterjemahkan ke dalam karakter desain masing-masing. Batik tersebut kemudian dipadukan dengan denim yang dikenal sebagai material modern, kasual, dan universal. Para desainer yang terlibat antara lain Adeline Ester, Andreas Odang, Carmanita, Chossy Latu, Danny Satriadi, Denny Wirawan, Didi Budiardjo, Eddy Betty, Eridan, Era Soekamto, Ghea Panggabean, Han Tjen, Iven Gunawan, Liliana Lim, Mel Ahyar, Priyo Oktaviano, Rama Dauhan, Ria Miranda, Sebastian Gunawan, Wilsen Willim, Yongki Budisutisna, Yogie Pratama, dan Yogi Chandra.

Perpaduan dua material dengan karakter berbeda ini menjadi ruang eksplorasi bagi para desainer untuk menghadirkan busana yang tetap membawa identitas budaya, tetapi terasa dekat dengan gaya fashion masa kini.

Presentasi KANVAS BUDAYA: SATU NAPAS dalam rangkaian Fashion Nation di Senayan City

Batik Kudus Diberi Napas Baru lewat Denim
Pemilihan batik cap Kudus menjadi bagian menarik dari KANVAS BUDAYA tahun ini. Para desainer tidak hanya ditantang mengolah kain tradisional menjadi busana, tetapi juga mencari cara mempertemukannya dengan denim tanpa menghilangkan karakter masing-masing.

Hasil eksplorasi tersebut hadir dalam beragam gaya, mulai dari cocktail dress, streetwear, ready-to-wear hingga adibusana.

“Mengapa batik cap dipadukan dengan denim untuk tahun ini? Selain untuk memberikan nuansa baru, saya merasa bahwa apabila batik cap ini diolah oleh teman-teman desainer IFDC yang sangat handal, pastinya akan menjadi sesuatu yang penuh kejutan dan kreativitas,” ujar Denny Wirawan.

Menurut Rama Dauhan, kekuatan kolaborasi ini justru terletak pada pertemuan karakter batik dan denim.
“Kedua material yang digunakan, batik dan denim, memiliki filosofi dan karakter masing-masing. Namun, ketika keduanya disandingkan dan diolah melalui perspektif desain yang berbeda, keduanya dapat menjadi satu kesatuan yang memiliki ‘Satu Napas’,” ungkap Rama Dauhan.

Koleksi busana berbahan Batik Kudus dalam KANVAS BUDAYA 2026

24 Karya Dipresentasikan di Fashion Nation
Eksplorasi Batik Kudus dan denim tersebut akhirnya dipresentasikan pada Kamis, 24 September 2026, sebagai bagian dari rangkaian Fashion Nation di Senayan City, Jakarta.

Sebanyak 24 karya hasil eksplorasi menjadi representasi dari tema “Satu Napas”, dengan masing-masing desainer menerjemahkan batik dan denim sesuai DNA serta karakter desain mereka.

Melalui KANVAS BUDAYA: SATU NAPAS, IFDC dan Bakti Budaya Djarum Foundation menunjukkan bahwa pelestarian budaya juga bisa berjalan melalui eksplorasi fashion.

Batik Kudus dan denim yang berasal dari dua dunia berbeda akhirnya dipertemukan dalam satu bahasa: fashion Indonesia yang terus bergerak, berkembang, dan tetap berakar pada budaya. (kintan)