Indonesiasenang-, Industri film horor Indonesia kembali bergerak ke arah yang lebih subtil meninggalkan teror instan menuju kengerian yang menetap di benak. Dua proyek terbaru, Jikobukken dan The Scarecrow Valley, menjadi penanda perubahan itu. Disutradarai oleh Billy Christian dan diproduksi oleh Memento Works bersama Studio Emu, kedua film ini bukan hanya ambisius dari sisi cerita, tetapi juga dari skala produksi dengan lokasi syuting penuh di Jepang selama dua bulan, dimulai 28 Mei 2026.
Peluncuran proyek yang digelar di ONNI Garden House memperlihatkan arah baru horor Indonesia: bukan sekadar teriakan dan kejutan visual, melainkan pendekatan psikologis yang perlahan merayap masuk ke kesadaran penonton.
Ditegaskan oleh Billy Christian bahwa rasa takut yang ingin dibangun bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba, tetapi tumbuh perlahan, mengendap, dan sulit dilepaskan. “Horor yang paling kuat itu yang tinggal di kepala penonton:, ujarnya, menandai pergeseran pendekatan dari horor fisik ke horor mental saat jumpa pers Project Launching & Cast Reveal di ONNI Garden House, Lebak Bulus Jakarta Selatan, Selasa (05/05/2026).
Dalam konteks psikologis, Jikobukken dan The Scarecrow Valley tidak hanya berbicara tentang hantu atau entitas tak kasat mata, tetapi juga trauma, kehilangan, dan relasi keluarga yang retak. Tema-tema ini menjadi fondasi narasi yang mengikat kedua film dalam satu semesta cerita (shared universe), sebuah pendekatan yang masih jarang dieksplorasi dalam horor Indonesia.
Istilah “jikobukken” sendiri merujuk pada properti di Jepang yang memiliki sejarah tragedi ruang fisik yang menyimpan jejak emosional masa lalu. Sementara The Scarecrow Valley mengusung folk horror dengan lanskap desa terpencil yang menyembunyikan rahasia kelam. Kedua latar ini tidak hanya menjadi tempat, tetapi juga representasi kondisi batin karakter: sunyi, terasing, dan penuh tekanan.
Deretan aktor muda seperti Dimas Anggara, Vanesha Prescilla, Giulio Parengkuan, dan Yumi Kwandy menjadi wajah dari eksplorasi psikologis ini.
Yumi Kwandy misalnya, memerankan dua karakter sekaligus, yaitu Mizuki dan Yoriko yang tidak sekadar hadir sebagai figur menyeramkan, tetapi juga sebagai individu dengan latar emosional kompleks. Yoriko digambarkan sebagai sosok tragis yang terbentuk dari tekanan dan penolakan, memperlihatkan bagaimana horor bisa lahir dari luka yang tidak terlihat.
Dimas Anggara membawa karakter Hilman dengan lapisan kesepian yang dalam, sementara Vanesha melihat proyek ini sebagai perwujudan ketertarikannya pada genre psychological horror, sebuah ruang yang memberinya kesempatan untuk mengeksplorasi emosi lebih dalam dibanding horor konvensional.
Di balik narasi yang intens, proyek ini juga mencerminkan dinamika industri film Indonesia yang semakin berani menembus batas geografis. Produser Andreas Sullivan mengungkapkan bahwa produksi di Jepang menghadirkan tantangan besar, mulai dari biaya akomodasi hingga kendala bahasa.
Namun, kompleksitas ini justru menjadi investasi artistik. Tim bahkan menyiapkan penerjemah khusus demi menjaga komunikasi lintas budaya tetap lancar, sebuah detail yang menunjukkan keseriusan produksi dalam menjaga kualitas.
Pemilihan lokasi di Jepang pun bukan tanpa alasan. Billy mencari ruang yang secara visual memiliki aura mencekam, sebelum dipoles dengan sentuhan sinematik. Untuk The Scarecrow Valley, ratusan boneka seukuran manusia disiapkan sebagai elemen set bukan sekadar properti, tetapi simbol ketidaknyamanan kolektif yang memperkuat atmosfer.
Kedua film ini tampaknya ingin melampaui batas genre horor sebagai hiburan semata. Mereka menawarkan pengalaman yang lebih reflektif mengajak penonton menghadapi ketakutan yang bersumber dari dalam diri sendiri.
Dengan menggabungkan pendekatan psikologis, produksi lintas negara, dan eksplorasi narasi yang saling terhubung, Jikobukken dan The Scarecrow Valley berpotensi menjadi tonggak baru dalam evolusi horor Indonesia.
Alih-alih membuat penonton berteriak di kursi bioskop, film ini justru ingin meninggalkan sesuatu yang lebih lama: rasa tidak nyaman yang terus hidup, bahkan setelah layar menjadi gelap. (triyadi; foto enhan)