Indonesiasenang-, Fenomena viral "cek khodam" yang sempat menguasai media sosial kini hadir dalam kemasan berbeda melalui film horor komedi Cek Khodam. Lewat peluncuran trailer resmi yang digelar di Metropole XXI, Jakarta, Kamis (25/06/2026), sutradara Jeropoint mengungkap alasan di balik lahirnya film yang disebutnya sebagai potret ironi masyarakat modern terhadap dunia mistis.
Menurut Jeropoint, ide cerita Cek Khodam berangkat dari fenomena yang pernah ramai di TikTok. Namun alih-alih hanya mengikuti tren, ia memilih mengembangkan konsep tersebut menjadi sebuah kisah yang lebih dekat dengan realitas generasi masa kini.
"Viral itu hanya pintu masuk. Yang lebih penting adalah bagaimana membuat cerita yang relevan dengan kehidupan kita. Saya melihat ada ironi besar. Dulu manusia takut pada setan, sekarang kalau ada tempat angker justru yang dicari kamera untuk bikin konten. Semua sudah dijadikan hiburan”, kata Jeropoint.
Dari pengamatan itulah lahir premis unik yang menjadi jantung cerita Cek Khodam. Jika selama ini film horor selalu menampilkan manusia yang ketakutan menghadapi makhluk gaib, film ini justru membalik situasinya. Kali ini para penghuni dunia khodam yang dibuat kerepotan karena manusia modern tidak lagi merasa takut kepada mereka.
Trailer yang diperkenalkan kepada publik menampilkan gambaran dunia yang sedang mengalami krisis ketakutan. Bukan lagi hantu yang menjadi ancaman, melainkan persoalan hidup sehari-hari seperti dompet kosong, cicilan yang menumpuk, hingga datangnya tanggal tua.
Dalam cerita, tiga sahabat bernama Sakti (Jirayut), Wira (Saputra Kori), dan Bima (Benedictus Siregar) aktif membuat konten "cek khodam" yang viral di media sosial. Tanpa disadari, aksi mereka membuat AKM atau Angka Ketakutan Manusia terus menurun hingga mencapai titik mengkhawatirkan.
Kondisi tersebut memaksa Panglima Khodam turun langsung ke dunia manusia demi mengembalikan martabat dunia gaib. Namun misi tersebut berubah menjadi rangkaian kekacauan yang memicu berbagai situasi kocak sekaligus menegangkan.
Bagi Jeropoint, kekuatan utama Cek Khodam bukan hanya terletak pada unsur komedinya, tetapi juga pada cerita yang dibangun di balik konflik antara manusia dan dunia gaib.
"Ini memang film horor komedi pertama yang saya tulis dan sutradarai. Tapi saya tidak ingin hanya menyajikan horor dan tawa. Ada cerita yang ingin kami bangun. Ada hubungan keluarga, persahabatan, dan tentang bagaimana orang-orang saling merangkul dalam situasi yang tidak terduga”, tutur Jeropoint.
Karena berangkat dari dunia Gen Z dan budaya media sosial, Jeropoint juga menghadirkan pendekatan visual yang berbeda dibanding film horor pada umumnya. Ia sengaja menggunakan warna-warna yang lebih cerah dan dinamis untuk menggambarkan emosi para karakter.
"Kami membuat horor yang colorful. Tidak selalu gelap dan suram. Film ini lahir dari cara generasi sekarang memandang dunia, termasuk bagaimana mereka melihat hal-hal mistis. Itu yang ingin kami tampilkan”, ujarnya.
Sebagai kreator konten yang juga akrab dengan berbagai eksplorasi bertema horor, Jeropoint mengaku banyak memasukkan pengalaman nyata ke dalam film. Ia menemukan bahwa di balik aktivitas penelusuran tempat angker atau kisah mistis, sering kali muncul momen-momen lucu yang terjadi secara spontan.
Pengalaman itulah yang kemudian diterjemahkan menjadi berbagai adegan komedi yang mewarnai perjalanan para karakter dalam film.
Melalui trailer yang telah dirilis, Jeropoint berharap publik tidak hanya melihat Cek Khodam sebagai film yang mengikuti tren viral semata. Ia ingin penonton menemukan pengalaman menonton yang segar, di mana horor, komedi, dan drama berjalan beriringan dalam satu cerita.
"Dalam film ini, penonton bisa tertawa, tegang, dan ikut merasakan perjalanan para karakternya. Kami membuat film ini dengan penuh kesenangan dan berharap penonton juga merasakan hal yang sama saat menontonnya di bioskop”, ungkap Jeropoint.
Diproduksi Dee Company, Cek Khodam turut dibintangi Saputra Kori, Benedictus Siregar, Kak Gem, Tante Lala, Angie Williams, Fahira Almira, Roewina Umboh, dan Fanny Fadillah. Film yang mengajak penonton melihat dunia hantu dari sudut pandang berbeda ini dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 16 Juli 2026.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah manusia takut pada hantu, melainkan apakah para hantu masih mampu membuat manusia takut?. (satria; foto tcs)