Indonesiasenang-, Tidak semua perpisahan diawali pertengkaran. Ada yang datang perlahan, nyaris tanpa suara. Masih ada sapaan, masih ada kebersamaan, namun rasa yang dulu mengikat mulai kehilangan bentuknya. Di ruang sunyi itulah Ifan Seventeen menempatkan single terbarunya, “Jangan Paksa Rindu (Beda)” sebuah lagu tentang keberanian untuk jujur pada perasaan sendiri.

Lagu ini bukan kisah cinta yang runtuh secara dramatis. Tidak ada ledakan emosi, tidak ada kata perpisahan yang diucapkan dengan air mata. Justru sebaliknya, “Jangan Paksa Rindu (Beda)” berbicara tentang hubungan yang tetap berjalan di permukaan, sementara di dalamnya, perasaan sudah berjalan ke arah yang berbeda.

Diciptakan oleh Ifan Seventeen bersama Opik Kurdi, lagu ini mengajak pendengarnya kembali pada pertanyaan-pertanyaan sederhana yang sering diabaikan: kapan terakhir berbincang tanpa basa-basi? Kapan terakhir saling menatap tanpa distraksi? Kapan terakhir kata “cinta” diucapkan tanpa ragu?. Dari sana, kesadaran muncul, bahwa jarak paling menyakitkan bukan soal ruang, melainkan hati yang perlahan menjauh.

Dalam lagu ini, Ifan Seventeen tidak menawarkan solusi instan atau romantisasi patah hati. Yang hadir justru kejujuran yang tenang. “Jangan Paksa Rindu (Beda)” menyoroti fase ketika dua orang tetap bertahan bukan karena cinta, melainkan karena kebiasaan. Karena takut sendiri. Karena enggan keluar dari zona aman, meski hati sudah lama tidak nyaman.

“Lagu ini tentang banyak pasangan yang sebenarnya sudah mengkhianati perasaan sendiri. Mereka bertahan, padahal sudah tidak bahagia, karena takut menghadapi perubahan”, ujar Ifan Seventeen.

Alih-alih menghakimi, lagu ini memeluk realitas itu dengan empati. Merelakan digambarkan bukan sebagai kekalahan, melainkan bentuk kedewasaan emosional. Melepaskan bukan berarti menghapus kenangan, tetapi memberi ruang agar luka tidak terus diperpanjang. Dalam diamnya, lagu ini justru berbicara lantang: cinta dan rindu tidak pernah bisa dipaksakan.

Secara musikal, aransemen yang dipilih terasa sengaja dibuat sederhana. Tidak berlebihan, tidak menutup ruang emosi. Di sanalah vokal Ifan Seventeen mengambil peran utama dengan hangat, rapuh, dan penuh penghayatan. Setiap nada seolah menjadi perpanjangan dari cerita yang mungkin pernah dialami banyak orang, menjadikan lagu ini terasa personal, bahkan intim.

“Jangan Paksa Rindu (Beda)” menjadi salah satu titik penting dalam album terbaru Ifan Seventeen, Resonance. Judul album ini diambil dari istilah resonansi, getaran suara yang merambat dan bertahan di udara. Sebuah metafora yang dipilih Ifan untuk menggambarkan harapannya: agar emosi dalam setiap lagu tidak berhenti ketika musik selesai diputar, melainkan tinggal dan beresonansi dalam diri pendengarnya.

Album Resonance menghadirkan perjalanan emosional yang utuh melalui sepuluh lagu, masing-masing dengan karakter dan cerita berbeda. Ada refleksi, penerimaan, kehilangan, harapan, hingga proses pendewasaan yang dirangkai tanpa tergesa. Setiap lagu berdiri sendiri, namun saling terhubung dalam satu benang merah yang kuat—tentang manusia dan pergulatannya dengan perasaan.

Daftar lagu dalam album Resonance : 1001 Cara, Jangan Paksa Rindu (Beda), Kidung Hawa, Tangisan Dibawah Hujan, Anomali, Sungguh Sempurna, Menjadi Bintang, Lelaki Hebat, Apa Kabar, dan Sakit Hati.

Dirilis pada 9 Januari 2026, single “Jangan Paksa Rindu (Beda)” bersama album Resonance menandai fase baru perjalanan musikal Ifan Seventeen yang lebih jujur, lebih dewasa, dan lebih dekat dengan realitas emosional pendengarnya. Ini bukan sekadar lagu galau, melainkan cermin sunyi bagi mereka yang sedang belajar menerima bahwa tidak semua cinta harus dipertahankan, dan tidak semua rindu layak dipaksa. (sugali; foto rpm)