Indonesiasenang-, Laut Indonesia bukan sekadar lanskap untuk dinikmati. Di balik ribuan pulau dan kekayaan bawah lautnya, terbuka peluang besar untuk menjadikan sektor bahari sebagai salah satu mesin baru pertumbuhan pariwisata nasional.
Pesan itu mengemuka dalam INSA Yacht Festival (IYF) 2026 yang digelar di Benoa Marina, Bali, 7–9 Agustus 2026. Memasuki penyelenggaraan dua tahunan yang ketiga, festival yang digagas Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) ini membawa agenda lebih besar dari sekadar memamerkan yacht.
IYF 2026 didorong menjadi titik temu industri untuk membangun ekosistem marine tourism Indonesia, sekaligus memperkuat tiga subsektor yang dinilai memiliki prospek besar, yakni yacht tourism, cruise tourism, dan diving.
Ditegaskan oleh Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, wisata yacht merupakan bagian dari tiga pilar utama pengembangan wisata bahari berkualitas bersama wisata cruise dan diving. “Acara ini merupakan etalase yang menunjukkan kesiapan ekosistem marine tourism Indonesia. Wisata yacht menjadi bagian dari tiga pilar utama pengembangan wisata bahari berkualitas, bersama dengan wisata cruise dan diving”, katanya di IYF 2026, Sabtu (08/08/2026).
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dan bagian dari kawasan Coral Triangle, Indonesia memiliki modal alam yang sangat kuat untuk mengembangkan wisata berbasis laut.
Potensi tersebut tidak berhenti pada panorama pantai. Laut Indonesia menawarkan pengalaman yang jauh lebih luas, mulai dari perjalanan menggunakan yacht dan cruise, eksplorasi pulau-pulau, hingga diving yang membawa wisatawan menikmati kekayaan biodiversitas bawah laut.
Tantangannya kini adalah bagaimana kekayaan tersebut diubah menjadi produk wisata berkualitas dengan dukungan infrastruktur, konektivitas, sumber daya manusia, marina, industri pelayaran, serta tata kelola yang berkelanjutan. Karena itu, IYF 2026 mempertemukan pemerintah, pelaku industri, investor, komunitas, asosiasi, dan pelaku pariwisata dalam satu ruang kolaborasi.
Menurut Widiyanti Putri Wardhana, kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kunjungan wisatawan, tetapi juga menciptakan efek ekonomi berantai. “Kami berharap kolaborasi ini dapat memberikan dampak yang lebih luas, mulai dari meningkatkan kunjungan wisatawan dan menggerakkan industri pelayaran, marina, galangan kapal, hingga UMKM, sekaligus membuka lebih banyak peluang ekonomi bagi masyarakat pesisir”, ujarnya.
Perubahan tren wisata bahari juga menjadi perhatian INSA. Wakil Ketua Umum DPP INSA sekaligus Ketua Penyelenggara IYF 2026, Nova Y. Mugijanto, mengatakan wisata bahari kini berkembang menjadi bagian dari gaya hidup.
Tahun ini, IYF mengusung tiga tema besar: Wellness Tourism, Marine Tourism, dan Gastronomy.
“Wisata bahari saat ini telah mengalami transformasi, tidak lagi hanya identik dengan menikmati pemandangan laut, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari marine lifestyle yang memadukan kesehatan, olahraga, rekreasi, budaya, kuliner, dan pengalaman berlayar”, kata Nova Y. Mugijanto.
Transformasi tersebut terlihat dari rangkaian kegiatan IYF 2026. Pengunjung tidak hanya diajak melihat yacht, tetapi juga mengikuti education tour, yacht viewing, yacht joy ride, boat launching, pilates on yacht, fashion show, hingga sunset dinner cruise.
Konsep tersebut memperlihatkan bagaimana laut mulai ditempatkan sebagai ruang pengalaman wisata yang lebih lengkap, dari olahraga dan wellness hingga kuliner dan hiburan.
Jika yacht menawarkan pengalaman pelayaran yang lebih personal, cruise membuka peluang menghadirkan perjalanan antardestinasi dalam skala yang lebih luas. Sementara diving menawarkan pengalaman yang langsung bersentuhan dengan kekayaan ekosistem bawah laut Indonesia.
Ketiga sektor tersebut berpotensi membentuk rantai produk wisata bahari yang saling melengkapi.
Indonesia memiliki banyak destinasi yang dapat dikembangkan melalui pendekatan tersebut. Namun, pertumbuhan wisata laut juga menuntut kesiapan destinasi dalam menyediakan marina, pelabuhan, fasilitas keselamatan, layanan hospitality, hingga pengelolaan lingkungan.
Dengan demikian, targetnya bukan sekadar mendatangkan lebih banyak wisatawan, melainkan menciptakan pengalaman berkualitas yang mampu meningkatkan lama tinggal dan belanja wisatawan sekaligus memberi manfaat kepada masyarakat lokal.
Dikatakan oleh Ketua Umum DPP INSA Carmelita Hartoto bahwa pengembangan wisata bahari memiliki nilai strategis karena efek ekonominya dapat menjalar ke berbagai sektor.
“Melalui INSA Yacht Festival, kami ingin ikut mendukung pengembangan quality tourism di Indonesia melalui berbagai kegiatan yang kami hadirkan, sekaligus menjadi ruang kolaborasi bagi seluruh pemangku kepentingan dalam mengembangkan wisata bahari yang berkualitas”, ujar Carmelita Hartoto.
Ambisi menjadikan Indonesia sebagai destinasi marine tourism kelas dunia juga berhadapan dengan satu persoalan mendasar: keberlanjutan.
IYF 2026 mengangkat isu tersebut melalui talkshow bertajuk “Clean Harbors, Clear Standards: Waste Management in Modern Marina”. Pembahasan ini menempatkan kebersihan marina dan kawasan pesisir sebagai bagian penting dari masa depan industri wisata bahari.
Bagi Nova Y. Mugijanto, laut yang sehat merupakan aset utama yang menentukan keberlangsungan pariwisata Indonesia. “Laut yang indah adalah modal utama pariwisata Indonesia. Karena itu, menjaga marina dan kawasan pesisir tetap bersih adalah tanggung jawab bersama”, ujarnya.
Isu lingkungan menjadi semakin penting ketika Indonesia ingin memperbesar pasar yacht, cruise dan diving. Ketiga jenis wisata tersebut sangat bergantung pada kualitas laut dan pesisir sebagai produk utamanya.
Tanpa laut yang bersih dan ekosistem yang terjaga, daya tarik wisata bahari pada akhirnya akan ikut tergerus.
Dukungan Kementerian Pariwisata turut memperkuat penyelenggaraan IYF 2026, termasuk keterlibatan Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Bali dalam penyediaan hospitality services selama festival berlangsung.
Promosi melalui media massa dan media sosial juga dilakukan untuk memperluas eksposur terhadap potensi yachting dan wisata bahari Indonesia.
IYF 2026 pun memperlihatkan bahwa arah pariwisata bahari Indonesia mulai bergeser. Laut tidak lagi hanya dijual sebagai pemandangan, tetapi sebagai pengalaman, gaya hidup, dan produk wisata bernilai ekonomi tinggi. Yacht, cruise dan diving menjadi tiga pintu masuk menuju pasar tersebut.
Jika didukung infrastruktur yang memadai, SDM berkualitas, regulasi yang kompetitif, serta pengelolaan lingkungan yang konsisten, wisata bahari berpeluang menjadi salah satu kekuatan baru pariwisata Indonesia.
Dari Benoa Marina, Bali, pesan itu semakin jelas bahwa masa depan pariwisata Indonesia tidak hanya berada di daratan, tetapi juga terbentang luas di laut. (dewa; foto bpmi)