Indonesiasenang-, Kabupaten kini menjadi motor penting dalam mendorong pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Hal itu tergambar dalam gelaran Sustainable Districts Outlook (SDO) 2025 yang berlangsung pada 27–28 Agustus di ICE BSD, Tangerang. Mengusung tema Kabupaten Bergerak, forum ini menegaskan bahwa inovasi lokal bukan sekadar inisiatif, melainkan solusi nyata bagi pembangunan ekonomi hijau yang berketahanan iklim.
Gelaran yang digagas Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) bersama Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) ini mempertemukan para pemimpin daerah, pakar, hingga jejaring multipihak untuk menampilkan praktik baik kabupaten dalam mengatasi krisis iklim dan mendorong investasi lestari.
Diingatkan oleh Hilmar Farid, selaku Founder Jalin Indonesia, bahwa krisis iklim dan sosial kini sudah memasuki fase kritis. “Iklim sudah berubah, laut berubah, dan deforestasi semakin tinggi. Sudah waktunya kabupaten mampu berdiri sendiri, bukan hanya sebagai pelengkap”, tegasnya.
Hal senada disampaikan Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto, yang menyebut bahwa istilah “global warming” kini sudah bergeser menjadi “global boiling”. “Sudah banyak narasi lokal yang berjalan secara organik. Saatnya diperkuat dengan kebijakan formal, fokus pada green leadership, serta kaderisasi aktivis muda,” ujarnya.
LTKLyang kini beranggotakan 9 kabupaten di 6 provinsi dengan dukungan 26 mitra multipihak terus memfasilitasi strategi dan jejaring kabupaten menuju pembangunan lestari.
Menurut Ristika Putri Istanti selaku Kepala Sekretariat LTKL, SDO 2025 menjadi ruang untuk menampilkan praktik terbaik daerah. “Transformasi dapat dimulai dari tingkat lokal. Melalui SDO, cerita-cerita baik dari kabupaten ditampilkan untuk mendorong perubahan nyata”, jelasnya.
Salah satu contoh konkret datang dari Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, yang kini dipimpin oleh Bupati Mohammad Rizal Intjenae sekaligus Ketua Umum LTKL periode 2025–2028. Kabupaten ini mengembangkan pariwisata berbasis alam di Taman Nasional Lore Lindu, serta menguatkan sektor pertanian dengan produk unggulan seperti kopi.
“Valuasi investasi di Sigi kini sudah menembus Rp36 miliar, khususnya dari sektor pertanian dan perkebunan berkelanjutan. Ini bukti bahwa inovasi lokal mampu menarik investasi berkualitas”, ujar Mohammad Rizal Intjenae.
Sementara itu Dewan Pembina LTKL, Fitrian Adriansyah, menekankan pentingnya mengintegrasikan investasi dengan konservasi. “Portfolio komoditas unggulan kabupaten punya peluang besar, tapi konsistensi menjadi tantangan. Integrasi investasi dan konservasi bukan hanya etis, tapi juga strategi bisnis yang relevan dengan tren global ESG”, tegasnya.
Ditambahkan oleh Fitrian Adriansyah, kepemimpinan bupati menjadi faktor krusial dalam memastikan keberlanjutan program, terutama dalam menarik perhatian investor dan membangun tata kelola yang kuat.
Melalui SDO 2025, kabupaten menunjukkan bahwa transformasi hijau tidak hanya bergantung pada kebijakan pusat, melainkan bisa dimulai dari lokal dengan inovasi dan gotong royong. Dari inkubasi produk berbasis alam, forum investasi lestari, hingga ruang kreatif publik, semua menjadi wujud nyata gerakan kabupaten menuju masa depan yang berdaya saing, tangguh iklim, dan berkelanjutan.
SDO 2025 pun menegaskan satu hal: inovasi lokal adalah jalan menuju Indonesia hijau dan berketahanan iklim. (devin; foto tcs)