Indonesiasenang-, TANGERANG — Industri waralaba Indonesia 2026 menunjukkan perkembangan signifikan dalam satu dekade terakhir. Waralaba dalam negeri kini mencatat jumlah Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW) lebih tinggi dibandingkan waralaba luar negeri. Data tersebut diungkapkan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, Iqbal Shoffan Shofwan, dalam acara pembukaan IFRA Business Expo 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Jumat (28/8/2026).

Acara pembukaan IFRA 2026 dihadiri oleh  Iqbal Shoffan Shofwan-Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, Anang Sukandar — Ketua Asosiasi Franchise Indonesia, Daswar Marpaung — Presiden Direktur Dyandra Promosindo dan Nassaree Pathan — Deputy Commercial Attaché, Department of International Trade Promotion (DITP), Ministry of Commerce Thailand.

Pengunjung dan pelaku usaha meramaikan IFRA Business Expo 2026

Berdasarkan data yang disampaikan Iqbal, pada 2026 tercatat 169 STPW untuk waralaba dalam negeri, sementara waralaba luar negeri mencapai 163 STPW. Artinya, jumlah waralaba lokal kini unggul enam STPW dibandingkan waralaba asing.

Perubahan tersebut menjadi semakin menarik jika dibandingkan dengan kondisi industri waralaba di Indonesia satu dekade sebelumnya.
Pada 2016, komposisi STPW masih didominasi oleh waralaba luar negeri. Saat itu, sekitar 70 persen STPW berasal dari waralaba luar negeri, sedangkan waralaba dalam negeri baru sekitar 30 persen.

Kini, kondisi tersebut justru berbalik. Waralaba lokal yang sebelumnya masih berada jauh di bawah bisnis asing berhasil mengejar dan bahkan sedikit melampaui jumlah waralaba luar negeri berdasarkan kepemilikan STPW.
“Kalau boleh saya sebutkan datanya adalah 169 Surat Tanda Pendaftaran Waralaba dari dalam negeri dibandingkan dengan 163 waralaba dari luar negeri,” ujar Iqbal.

Iqbal Shoffan Shofwan dalam pembukaan IFRA Business Expo 2026

Waralaba Lokal Semakin Berkembang
Menurut Iqbal, perubahan komposisi tersebut menunjukkan bahwa upaya memperkuat konsep dan bisnis lokal mulai memberikan hasil. Pengembangan ekosistem waralaba lokal Indonesia dilakukan secara konsisten dengan melibatkan berbagai pihak.
“Usaha kita untuk membangun waralaba ini dengan terus memberikan penguatan-penguatan terkait dengan konsep bisnis lokal, kayaknya lumayan berhasil,” katanya.

Ia mengakui perubahan tersebut tidak terjadi secara cepat. Namun, konsistensi dalam membangun ekosistem waralaba selama bertahun-tahun mulai memperlihatkan hasil.

Iqbal juga memberikan apresiasi kepada berbagai pihak yang selama ini berperan dalam menggerakkan ekosistem waralaba, mulai dari asosiasi, para ahli, event organizer, hingga pelaku usaha.

Anang Sukandar Ketua Asosiasi Franchise Indonesia di IFRA Business Expo 2026

Belum Lampaui Malaysia & Singapore, Indonesia Perlu Peningkatan
Perkembangan bisnis waralaba juga tidak terlepas dari upaya meningkatkan jumlah wirausaha di Indonesia. Dalam pemaparannya, Iqbal menyebut rasio kewirausahaan Indonesia masih perlu ditingkatkan apabila dibandingkan dengan sejumlah negara lain.

Malaysia disebut berada di kisaran 4,8 persen, Thailand sekitar 4,8–5 persen, Singapura sekitar 12 persen, sementara Amerika Serikat mencapai sekitar 10 persen.
Karena itu, peningkatan jumlah wirausaha menjadi pekerjaan rumah bersama. Dalam konteks tersebut, waralaba dapat menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat yang ingin memulai usaha tanpa harus membangun seluruh sistem bisnis dari nol.

Keuntungan bisnis waralaba adalah, calon pelaku usaha dapat menjalankan bisnis dengan mengikuti sistem dan model yang telah dimiliki pemilik waralaba. Meski demikian, waralaba bukan berarti bisnis yang bebas risiko. Setiap usaha tetap memiliki risiko yang harus dipahami dan diperhitungkan oleh calon pelaku usaha.

Data waralaba lokal Indonesia mencapai 169 STPW dalam pemaparan IFRA Business Expo 2026

Perubahan data STPW pada 2026 menjadi salah satu indikator penting perkembangan waralaba Indonesia. Dari kondisi 2016 ketika waralaba asing menguasai sekitar 70 persen STPW, kini waralaba dalam negeri mencatat 169 STPW, mengungguli waralaba luar negeri yang berada di angka 163 STPW.

Angka tersebut menunjukkan semakin kuatnya posisi bisnis lokal dalam ekosistem waralaba nasional sekaligus membuka peluang bagi merek-merek Indonesia untuk terus berkembang dan memperluas kontribusinya terhadap pertumbuhan kewirausahaan.

Diselenggarakan oleh Dyandra Promosindo, IFRA Business Expo 2026 menjadi salah satu ajang yang mempertemukan pelaku usaha, pemilik merek, calon mitra, investor, serta berbagai pihak dalam ekosistem waralaba dan lisensi. Digelar di ICE BSD, Tangerang, pada 28–30 Agustus 2026, pameran ini menjadi ruang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan peluang bisnis, memperluas jaringan, sekaligus mendorong pertumbuhan dan penguatan industri waralaba Indonesia huuh. Kehadiran IFRA 2026 juga diharapkan dapat semakin membuka akses masyarakat terhadap peluang kewirausahaan melalui model bisnis waralaba. (kintan)