IEE Series-Energy Week 2026: Jadi Limbah, Baterai Bekas Ternyata Masih Bernilai, Begini Caranya!

IEE Series-Energy Week 2026 mengungkap potensi baterai bekas. Dengan repurposing dan recycling, limbah baterai masih bernilai dan berkelanjutan!

IEE Series-Energy Week 2026: Jadi Limbah, Baterai Bekas Ternyata Masih Bernilai, Begini Caranya!

Indonesiasenang-, Perkembangan teknologi digital terus mendorong perubahan pada infrastruktur yang menopangnya. Pertumbuhan komputasi, cloud, dan kecerdasan buatan meningkatkan kebutuhan terhadap pusat data dan konektivitas, sementara elektrifikasi dan berkembangnya energi terbarukan mendorong sistem kelistrikan dan penyimpanan energi untuk menjadi semakin fleksibel. Perubahan tersebut menuntut infrastruktur yang tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga dapat berkembang mengikuti teknologi.

Kebutuhan tersebut menjadi bagian dari pembahasan dalam Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series - Energy Week 2026, yang mempertemukan Electric & Power Indonesia, Data Center Asia-Indonesia, dan The Battery Show Indonesia di JIExpo Kemayoran pada 2–5 September 2026. Melalui berbagai forum dan pembahasan di ketiga sektor tersebut, Energy Week menyoroti bagaimana kesiapan infrastruktur menjadi pilar penting dalam mendukung transformasi industri nasional.

Salah satu infrastruktur yang semakin strategis adalah teknologi penyimpanan energi atau baterai. Di tengah meningkatnya penggunaan kendaraan listrik dan energi terbarukan, baterai tidak lagi sekadar berfungsi sebagai sumber daya, tetapi menjadi jantung ekosistem energi masa depan.

Namun, perkembangan industri baterai juga menghadirkan pekerjaan rumah baru. Prof. Dr. rer. nat Evvy Kartini dalam workshop The Battery Show Indonesia menilai Indonesia masih membutuhkan sistem yang lebih komprehensif untuk mengetahui kondisi baterai sepanjang siklus hidupnya.

Menurutnya, saat ini Indonesia belum memiliki lembaga khusus yang dapat menentukan siklus pakai, tingkat penuaan, maupun sisa kualitas baterai secara menyeluruh. Karena itu, dibutuhkan alat ukur khusus untuk mengevaluasi kondisi baterai sekaligus mekanisme Tanggung Jawab Produsen yang Diperluas (Extended Producer Responsibility/EPR) agar pengelolaan baterai tidak berhenti ketika produk telah sampai di tangan konsumen.

“Ini menjadi pekerjaan rumah penting dalam membangun ekosistem baterai nasional, termasuk kebutuhan terhadap alat khusus untuk mengukur kondisi baterai serta pengembangan mekanisme EPR agar pengguna dapat mengetahui sejak awal usia optimal dan perkembangan penuaan baterai yang digunakan. Inilah yang diperlukan untuk memajukan industri baterai nasional,” kata Evvy Kartini.

Melonjaknya Limbah Baterai Hingga 50.000 Ton: Tantangan Besar Atasi Masalahnya

Hal ini menjadi semakin mendesak seiring proyeksi pertumbuhan limbah baterai kendaraan listrik yang ternyata jauh lebih besar dari yang kita bayangkan. Data yang dipaparkan menunjukkan limbah baterai kendaraan listrik di Indonesia dapat mencapai 57 ribu ton pada tahun 2030, dan melonjak drastis menjadi 322 ribu ton pada tahun 2035. Angka ini bukan sekadar statistik, ini adalah pengingat bahwa sejak sekarang Indonesia harus menyiapkan sistem pengelolaan baterai yang matang, jauh sebelum tumpukan itu menjadi kenyataan.

Peluang Baru Limbah Baterai

Tapi tunggu dulu, siapa bilang baterai bekas harus langsung berakhir di tempat sampah? Justru di sinilah letak peluangnya. Dengan teknologi dan sistem pengelolaan yang tepat, baterai yang sudah dianggap "habis" oleh kendaraan listrik ternyata masih memiliki nilai yang sangat besar. Baterai bekas masih bisa diberi kehidupan kedua melalui repurposing (pengalihfungsian) maupun recycling (daur ulang).

Baterai yang sudah tidak optimal untuk menyalakan mobil listrik, misalnya, masih sangat mampu digunakan sebagai penyimpan energi untuk pembangkit listrik tenaga surya, penyimpanan jaringan listrik rumah maupun perkantoran, hingga stasiun pengisian daya kendaraan listrik skala kecil. Pendekatan ini bukan hanya soal mengurangi sampah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru sekaligus menciptakan ekosistem baterai yang lebih berkelanjutan, ramah lingkungan, dan bernilai jangka panjang.

Di sisi lain, perkembangan energi terbarukan juga membuat sistem energi semakin kompleks. Simon Wan, Direktur Solusi Energi Huawei, menyatakan bahwa energi terbarukan perlu dapat dimanfaatkan secara lokal, dikelola secara cerdas, dan terintegrasi dengan jaringan listrik agar pemanfaatannya lebih optimal.

“Sistem tenaga menjadi semakin lokal, fleksibel, dan kompleks. Kita membutuhkan sistem energi yang lebih cerdas dan lebih dekat dengan pengguna, sekaligus mampu mengelola berbagai sumber daya tersebut secara bersama-sama,” ujar Simon Wan.

Dengan demikian, masa depan energi bukan hanya soal menghasilkan listrik, tetapi juga bagaimana listrik disimpan, digunakan, dan dikelola sepanjang siklus hidupnya, termasuk baterai yang sudah tak terpakai. IEE Series - Energy Week 2026 menjadi ruang untuk melihat kebutuhan tersebut secara lebih luas, termasuk bagaimana teknologi baterai dapat menjadi salah satu fondasi penting bagi sistem energi Indonesia yang lebih fleksibel dan berkelanjutan. (kintan; foto praba)


Share Tweet Send
0 Komentar
Memuat...
You've successfully subscribed to Indonesia Senang Dot Com - Semampu kita bisa dan lakukan keSENANGanmu
Great! Next, complete checkout for full access to Indonesia Senang Dot Com - Semampu kita bisa dan lakukan keSENANGanmu
Welcome back! You've successfully signed in
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.