Indonesiasenang-, Di pekan kedua penayangannya, Honour mulai meninggalkan pola drama hukum konvensional. Serial yang tayang di Viu ini perlahan menggeser pusat ketegangan dari ruang sidang ke ruang-ruang personal para tokohnya, tempat hukum tidak lagi hadir sebagai argumen, melainkan sebagai beban psikologis.
Sejak episode ketiga, Honour memperkenalkan ancaman dengan cara yang nyaris tak bersuara. Tidak ada ledakan konflik atau konfrontasi terbuka. Sebaliknya, teror muncul dalam bentuk gangguan kecil yang berulang, menciptakan rasa tidak aman yang terus menumpuk dan sulit diabaikan.

Kekuatan serial ini tetap bertumpu pada tiga pengacara perempuan di firma hukum L&J (Listen & Join), yang selama ini dikenal menangani kasus kekerasan seksual terhadap perempuan. Lee Na Young, Jung Eun Chae, dan Lee Chung Ah tidak hanya berhadapan dengan perkara hukum, tetapi juga dengan risiko personal yang datang sebagai konsekuensi dari pilihan profesi mereka.
Karakter yang diperankan Lee Na Young menjadi pintu masuk utama perubahan nada cerita. Sosok yang dikenal tenang dan terkendali itu mulai menunjukkan retakan. Ancaman yang dialaminya bersifat intim dan berulang, cukup kecil untuk dianggap sepele, namun cukup konsisten untuk menghancurkan rasa aman. Serial ini dengan sengaja menahan dramatisasi, memberi ruang bagi penonton merasakan ketakutan yang tumbuh perlahan.
Pendekatan berbeda ditampilkan oleh karakter Jung Eun Chae. Tekanan terhadapnya hadir dalam simbol yang sederhana namun sarat makna: angka “2005”. Tanpa penjelasan langsung, simbol ini membuka kemungkinan keterkaitan dengan masa lalu yang belum selesai, sekaligus menegaskan bahwa kasus hukum tidak pernah benar-benar berakhir ketika vonis dijatuhkan.

Keheningan menjadi senjata utama karakternya. Minim ekspresi, minim dialog, tetapi penuh makna. Dalam konteks serial hukum, sikap ini mencerminkan bagaimana profesionalisme sering kali menuntut pengorbanan emosional yang besar.
Sementara itu, karakter Lee Chung Ah berada di garis depan yang paling rentan. Aktivitas lapangannya membuat ancaman datang secara fisik, meski tetap tanpa sensasi berlebihan. Insiden singkat di eskalator menjadi pengingat bahwa bahaya tidak selalu datang dalam skala besar, cukup satu momen, satu dorongan, untuk mengubah segalanya.
Yang membuat Honour semakin relevan adalah konteks hukum yang melatarbelakanginya. Ancaman terhadap para pengacara ini hadir bersamaan dengan upaya mereka membela korban kekerasan seksual. Serial ini menyinggung realitas pahit: bahwa pembela keadilan, terutama dalam kasus sensitif, kerap menjadi sasaran tekanan balik—baik secara psikologis maupun sosial.

Menjelang pekan ketiga, Honour belum menawarkan jawaban. Ancaman sudah diperkenalkan, tetapi konsekuensinya masih menggantung. Dengan ritme tenang dan narasi yang menahan diri, serial ini memilih membangun ketegangan melalui akumulasi rasa takut, bukan kejutan instan.
Di titik ini, Honour tidak hanya menjadi drama hukum, tetapi juga potret tentang harga personal yang harus dibayar oleh mereka yang memilih berdiri di sisi korban, bahwa di balik argumen hukum dan pasal-pasal tertulis, ada rasa aman yang perlahan terkikis. (januar; foto viu)