Indonesiasenang-, JAKARTA – Halal Indonesia International Industry Expo (Halal Indo) 2026 resmi digelar di ICE BSD City, Tangerang, pada 24–27 September 2026. Dalam pembukaan acara, Menteri Perindustrian RI Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan perkembangan terbaru industri manufaktur Indonesia sekaligus tantangan yang perlu dihadapi ke depan.
Halal Indo 2026 berlangsung di Hall 3 dan 3A ICE BSD menjadi salah satu ruang bagi pelaku industri halal dan sektor terkait untuk memperkenalkan inovasi, memahami perkembangan pasar, serta bertemu dengan calon mitra bisnis.
Penyelenggaraan Halal Indo 2026 juga menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem industri halal Indonesia. Berbagai pelaku usaha dapat memanfaatkan pameran ini untuk memperluas jejaring, membuka peluang kerja sama, dan memperkenalkan produk kepada pasar yang lebih luas.
Industri Manufaktur Indonesia Tumbuh 5,32 Persen
Dalam kata sambutan pembukaan Halal Indonesia International Industry Expo 2026, Agus Gumiwang mengungkapkan bahwa kinerja industri manufaktur nasional masih mencatat pertumbuhan positif.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan industri manufaktur pada triwulan II mencapai 5,32 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,29 persen.
“Pertumbuhan industri manufaktur pada triwulan dua itu 5,32 persen. Alhamdulillah lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,29 persen,” ujar Agus.
Menurut Agus, kontribusi industri manufaktur Indonesia juga terlihat dari nilai PDB industri yang telah mencapai lebih dari Rp1.100 triliun. Sementara nilai investasi sektor industri berada di kisaran Rp200 triliun.
Dari sisi perdagangan, sektor manufaktur menjadi salah satu penyumbang utama ekspor nasional. Agus menyebut sekitar 82 persen total ekspor nasional berasal dari produk manufaktur, dengan nilai mencapai US$137,26 miliar sepanjang Januari hingga Juli.
Selain mendorong perekonomian dan perdagangan, industri manufaktur juga memiliki peran besar dalam penyerapan tenaga kerja. Sektor tersebut disebut menyerap hampir 20 juta tenaga kerja.
Agus Gumiwang Soroti Tantangan Deindustrialisasi
Meski pertumbuhan industri manufaktur menunjukkan angka positif, Agus juga menyoroti tantangan yang dihadapi Indonesia. Ia menjelaskan bahwa sejak 2012, pertumbuhan manufaktur dalam banyak periode berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional.
Kondisi tersebut kemudian memunculkan pandangan dari sebagian pengamat dan pakar mengenai kemungkinan Indonesia memasuki fase deindustrialisasi.
Agus menjelaskan, deindustrialisasi merupakan kondisi ketika peran industri dalam perekonomian menurun sebelum sebuah negara mencapai status negara maju. Fenomena tersebut juga banyak dialami negara berkembang yang terjebak dalam middle income.
Karena itu, penguatan industri nasional menjadi penting untuk menjaga kontribusi manufaktur terhadap perekonomian sekaligus mendorong pengembangan berbagai sektor industri, termasuk industri halal Indonesia.
Jawa Timur Jadi Catatan Positif
Dalam kesempatan yang sama, Agus juga menyinggung capaian daerah dalam pengembangan industri. Ia menyebut Jawa Timur yang mendominasi salah satu kategori sebagai catatan positif sekaligus pemacu bagi daerah lain.
Menurutnya, capaian tersebut diharapkan dapat membuat daerah lain semakin termotivasi untuk meningkatkan kinerja pada tahun berikutnya. Di sisi lain, Jawa Timur juga diharapkan terus mempertahankan prestasinya.
“Supaya daerah lain bersemangat untuk tahun depan bisa mengalahkan Jawa Timur. Tetapi di satu sisi Jawa Timur juga terus semangat untuk bisa tetap menjadi yang terbaik,” pungkas Agus.
Melalui Halal Indo 2026, penguatan industri halal diharapkan dapat berjalan beriringan dengan pertumbuhan industri manufaktur nasional, sekaligus membuka lebih banyak peluang bagi pelaku usaha untuk mengembangkan produk dan memperluas pasar. (kintan)