Indonesiasenang-, Film zombie umumnya identik dengan kepanikan, kejar-kejaran brutal, dan makhluk hidup-mati yang menjadi ancaman utama. Namun We Bury The Dead (2025) justru mengambil arah yang jauh berbeda. Disutradarai Zak Hilditch dan dibintangi Daisy Ridley, film ini lebih menyerupai drama reflektif berlatar dunia pasca-apokaliptik ketimbang film zombie konvensional.

Alih-alih menyuguhkan teror intens dan adegan penuh darah, We Bury The Dead memilih jalur sunyi, perlahan, dan kontemplatif. Zombie memang hadir, tetapi lebih berfungsi sebagai latar dunia yang runtuh—bukan sebagai sumber ketegangan utama. Fokus film ini justru terletak pada tema kehilangan, duka, dan harapan manusia di tengah kehancuran.

Poster resmi film We Bury The Dead (2025) yang menampilkan nuansa sunyi dan dunia pasca-apokaliptik, dibintangi Daisy Ridley.

Sinematografi: Sunyi yang Berbicara Banyak
Dari sisi visual, We Bury The Dead tampil memikat. Sinematografi  yang minimalis memanfaatkan lanskap Tasmania yang dingin, kosong, dan suram sebagai latar dunia yang runtuh. Kamera sering bergerak lambat, dengan komposisi gambar yang rapi dan penuh ruang kosong, menciptakan kesan isolasi yang kuat.

Tidak banyak permainan kamera agresif atau potongan cepat. Justru kesunyian visual inilah yang menjadi kekuatan film ini. Adegan kota kosong, jalanan tanpa manusia, dan bangunan terbengkalai terasa lebih mengganggu secara emosional dibandingkan jumpscare murahan.

Film ini membuktikan bahwa kehancuran tidak selalu harus ditampilkan lewat kekerasan—kadang, keheningan jauh lebih menusuk.

Official Trailer Film We Bury the Dead

Pendalaman Karakter: Daisy Ridley Jadi Poros Cerita
Kekuatan utama We Bury The Dead terletak pada pendalaman karakter, terutama tokoh Ava yang diperankan oleh Daisy Ridley. Ava adalah seorang perempuan yang kehilangan suaminya setelah sebuah eksperimen militer berujung bencana massal.

Perjalanan Ava bukan sekadar upaya bertahan hidup, melainkan pencarian emosional untuk menemukan kepastian: apakah orang yang ia cintai masih hidup, atau telah menjadi bagian dari kematian massal tersebut.

Ridley tampil dengan akting minimalis namun emosional. Lewat ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan momen-momen hening, ia berhasil menghadirkan karakter yang rapuh dan manusiawi. Penonton diajak masuk ke kondisi mental seseorang yang hidup di antara harapan dan keputusasaan.

Sayangnya, karakter pendukung tidak mendapatkan pendalaman yang sama kuatnya. Beberapa tokoh hadir sekadar sebagai teman perjalanan tanpa latar emosional yang benar-benar digali, sehingga hubungan antar karakter terasa kurang menggigit.

Kehadiran zombie dalam film We Bury The Dead (2025) menjadi latar simbolis, bukan sumber teror utama.

Zombie Bukan Ancaman Utama
Secara naratif, We Bury The Dead bergerak dengan tempo lambat dan meditatif. Film ini lebih tertarik mengeksplorasi proses berduka dan menerima kenyataan ketimbang membangun konflik fisik dengan zombie.

Inilah poin penting yang perlu dicatat: film ini tidak menawarkan kepanikan intens. Zombie hadir, tetapi jarang menjadi ancaman langsung. Dalam banyak adegan, mereka terasa seperti figuran—ada, namun tidak benar-benar berbahaya.

Pendekatan ini terasa segar bagi penonton yang menyukai horor atmosferik dan drama emosional. Namun di sisi lain, hal ini berpotensi mengecewakan pecinta film zombie brutal yang mengharapkan ketegangan konstan dan aksi bertahan hidup penuh adrenalin. Akting Daisy Ridley menjadi tulang punggung film dan berhasil membawa beban cerita.

Karakter Ava dalam We Bury The Dead (2025), merepresentasikan duka dan pencarian makna di tengah dunia yang runtuh.

Zombie Sekadar Latar, Duka Jadi Monster Sebenarnya
Harus diakui, We Bury The Dead bukan film zombie untuk semua orang. Jika kamu mengharapkan teror intens, darah, dan kepanikan tanpa henti, film ini jelas bukan jawabannya.

Namun, bagi penonton yang menyukai film reflektif, sunyi, dan berfokus pada sisi emosional manusia di tengah kehancuran, We Bury The Dead menawarkan pengalaman yang berbeda dan cukup berkesan.

Zombie mungkin hanya figuran, tetapi duka dan kehilangan menjadi monster sebenarnya dalam film ini. (kintan; ve; xxi)