Indonesiasenang-, Di tengah upaya mendorong pariwisata yang lebih bertanggung jawab, Indonesia mulai menata ulang cara bercerita tentang destinasi. Bukan lagi semata keindahan visual, melainkan nilai dan makna di baliknya. Melalui kolaborasi Kementerian Pariwisata, Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB), dan PT Bank Central Asia Tbk, konservasi lingkungan diangkat menjadi narasi utama dalam sebuah film dokumenter promosi pariwisata.
Film ini menelusuri dua ruang hidup yang berbeda namun saling terhubung oleh semangat yang sama, yaitu menjaga alam demi masa depan. Di pesisir selatan Yogyakarta, Pantai Goa Cemara menjadi panggung kisah penyelamatan penyu oleh Kelompok Konservasi Penyu (KKP) Mino Raharjo. Di wilayah pegunungan Malang, Desa Sidodadi menghadirkan cerita tentang air, hutan, dan harapan hidup masyarakat desa.
Di Goa Cemara, konservasi penyu tidak diposisikan sebagai aktivitas eksklusif para relawan. Ia dibuka menjadi ruang belajar bersama melalui wisata edukasi. Wisatawan diajak menyaksikan bahkan terlibat dalam pelepasan tukik, sebuah pengalaman sederhana yang menyimpan pesan besar tentang siklus kehidupan dan tanggung jawab manusia terhadap laut.

Narasi ini menggeser makna berwisata. Pantai tidak lagi sekadar tempat bersantai, melainkan ruang refleksi ekologis. Setiap langkah kaki di pasir, setiap tukik yang dilepas ke laut, menjadi pengingat bahwa pariwisata memiliki konsekuensi terhadap alam yang dikunjunginya.
Sementara itu di Desa Sidodadi, kamera merekam denyut kehidupan yang bergantung pada air. Proses restorasi mata air ditampilkan sebagai kerja kolektif yang sarat nilai budaya: gotong royong, kesabaran, dan keberlanjutan. Warga desa bersama kelompok tani hutan menelusuri sumber air, menanam pohon, dan merawat kawasan hulu demi menjaga aliran kehidupan tetap berjalan.
Air dalam film ini bukan sekadar elemen alam, melainkan simbol keberlanjutan sosial. Ketika mata air pulih, sawah kembali dialiri, rumah tangga memperoleh akses air bersih, dan harapan untuk generasi berikutnya kembali tumbuh. Restorasi lingkungan pun hadir sebagai fondasi kesejahteraan sekaligus peluang pengembangan wisata berbasis edukasi dan alam.
Kelana Wisata, sebagai kanal promosi pariwisata BPOB, mengemas kedua kisah tersebut dalam bahasa visual yang dekat dan membumi. Film dokumenter menjadi medium kampanye yang mengajak penonton dan calon wisatawan untuk memahami bahwa pariwisata berkualitas lahir dari relasi harmonis antara manusia dan alam.

Lewat pendekatan ini, promosi pariwisata bergerak melampaui slogan. Ia menjelma menjadi cerita hidup tentang konservasi, budaya, dan masa depan. Sebuah langkah yang sejalan dengan Gerakan Wisata Bersih dan agenda Pariwisata Naik Kelas, di mana perjalanan tidak hanya diukur dari jarak, tetapi dari dampak yang ditinggalkan.
Pariwisata Indonesia pun perlahan belajar menjaga alam bukan sekadar kewajiban, melainkan cerita paling jujur yang bisa ditawarkan kepada dunia. (kelvin; foto bkkp)