Indonesiasenang-, Verona Films menghadirkan drama romansa terbaru berjudul Dan Bandung, sebuah film yang tidak hanya berbicara tentang kisah cinta dua anak muda, tetapi juga tentang perbedaan latar belakang, keluarga, persahabatan, pendidikan, serta berbagai cobaan hidup yang menguji keteguhan seseorang dalam menjalani hubungan.

Film yang diadaptasi dari novel karya penulis Pidi Baiq ini disutradarai Rudi Soedjarwo, sineas yang dikenal melalui Ada Apa dengan Cinta?. Dan Bandung akan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 20 Agustus 2026.

Gala premiere Dan Bandung berlangsung di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (12/8/2026) malam. Hadir dalam acara tersebut produser Titin Suryani, Produser Eksekutif Bedy Kunady, Rudi Soedjarwo, serta jajaran pemain seperti Shanna Shannon, Samo Rafael, Keisya Levronka, Theo Supple, Razan Zu, Nugie, Donny Damara, Tike Priatnakusumah, Jenny Zhang, Arswendy Bening Swara, De Boer William, Silvester Rangga, dan Ade Habibie.

Berdurasi sekitar dua jam, film ini menempatkan Basil (Samo Rafael) dan Elma (Shanna Shannon) sebagai pusat cerita. Keduanya merupakan mahasiswa dengan latar belakang ekonomi dan budaya yang kontras. Perbedaan tersebut menjadi salah satu tantangan ketika perasaan di antara mereka mulai tumbuh.

Basil merupakan mahasiswa fakultas seni dan desain dengan karakter urakan, nyeniman, suka bercanda, cuek, serta memiliki kegemaran terhadap sepeda motor antik. Sementara Elma adalah mahasiswi farmasi yang lebih pendiam.

Pertemuan mereka bermula secara tak terduga ketika pertandingan sepak bola Persib berlangsung. Melalui kamera dan lensa tele, Basil tanpa sengaja memotret wajah Elma. Foto tersebut kemudian menjadi awal perjalanan Basil mencari sosok perempuan yang membuatnya penasaran.

Namun, perjalanan cinta Basil dan Elma tidak berjalan sederhana. Perbedaan kasta sosial dan budaya, persoalan keluarga, pertemanan, pendidikan hingga berbagai persoalan kehidupan membuat hubungan mereka harus melewati banyak ujian.

Ditegaskan oleh Sutradara Rudi Soedjarwo bahwa Dan Bandung sengaja tidak dibuat hanya sebagai kisah romansa yang menghadirkan hubungan pasangan muda dengan segala kelucuan dan kemanisannya.

“Di film ini, saya enggak cuma mau membawakan romansa gemas-gemas yang sudah biasa kita temukan di film, terutama film roman Indonesia. Saya ingin Dan Bandung menjadi refleksi perjuangan kita sebagai seorang pasangan, sebagai keluarga, dan sebagai teman”, kata Rudi Soedjarwo.

Menurut Rudi Soedjarwo, kekuatan film ini justru terletak pada kemampuannya membawa penonton melihat cinta dari perspektif yang lebih luas. Persoalan yang dihadapi Basil dan Elma tidak berhenti pada bagaimana mempertahankan hubungan, tetapi juga bagaimana seseorang tetap menjalani tanggung jawab terhadap keluarga, sahabat, serta masa depan.

Film ini juga membawa pesan bahwa jatuh cinta bukan alasan untuk mengesampingkan pendidikan. Basil, sebagai mahasiswa, tetap harus menghadapi konsekuensi dari pilihan hidupnya ketika perasaan, keluarga, pertemanan, dan pendidikan berada dalam satu persoalan yang saling beririsan.

“Film ini memang tak hanya mencoba mewakili anak-anak muda yang sedang kasmaran saja, tapi juga yang enggak seumuran tokoh di film ini bisa turut merasakan. Di sinilah tantangannya”, imbuh Rudi Soedjarwo.

Kisah Basil dan Elma menjadi gambaran bagaimana cinta dapat tumbuh di antara dua pribadi yang berbeda. Perbedaan karakter mereka bahkan terasa sejak awal proses membangun chemistry.

Diungkapkan oleh Shanna Shannon bahwa dirinya dan Samo Rafael sama-sama introvert sehingga pada awalnya mereka justru lebih banyak diam ketika harus membangun kedekatan. “Dari kita berlima itu, yang introvert itu kita berdua. Hanya kita berdua. Jadi awal-awalnya itu kita sempat diam-diaman, karena sesama introvert”, katanya.

Keduanya kemudian menemukan kesamaan yang cukup unik, yakni sama-sama memiliki masalah asam lambung. Momen ketika Samo menawarkan obat asam lambung kepada Shanna saat proses simulasi akhirnya membuat komunikasi mereka mulai mencair.

Dari situ, chemistry Basil dan Elma perlahan terbentuk. Shanna juga mengaku mendapatkan banyak arahan dan saran dari Samo selama membangun adegan bersama.

Samo Rafael sendiri melihat Shanna Shannon memiliki kekuatan tersendiri dalam memerankan Elma. Meski karakternya pendiam, ekspresi Shanna dianggap mampu menyampaikan emosi tanpa harus banyak dialog. “Tanpa suara pun mata dia kayak yang aku bilang tadi, matanya sudah menceritakan sesuatu. Jadi pas aku lihat itu, oh, ini kayaknya bisa ini”, ujarnya.

Basil bukan sosok sempurna. Karakternya digambarkan urakan, cuek dan terkadang membuat keputusan yang dapat memancing perdebatan. Namun, di balik sikap tersebut terdapat sisi emosional yang kuat.

Samo Rafael mengaku senang ketika melihat penonton mampu memahami perasaan Basil, meski karakter tersebut mungkin memiliki sejumlah sikap yang tidak selalu bisa diterima. “Sebrengsek apa pun Basil menurut kalian, sebenarnya dia punya perasaan. Dia pergi itu karena sesuatu”, ucapnya.

Karakter Basil juga harus menghadapi sejumlah situasi emosional hingga membuatnya menangis. Rudi memberikan ruang cukup besar bagi Samo untuk menggali sisi tersebut tanpa terlalu banyak mengarahkan.

“Nggak pernah overdirecting. Aku sebagai aktor kalau di-overdirect lumayan jadi kicep malah”, ujar Samo Rafael.

Bagi Rudi Soedjarwo, Basil menjadi sosok yang sudah lama ingin ia hadirkan kembali dalam film Indonesia, yakni karakter lelaki yang sedikit urakan, nakal, cuek, berambut gondrong, dan memiliki kegemaran terhadap sepeda motor antik. “Udah lama banget enggak ada karakter seperti itu di film-film Indonesia, dan ini akhirnya saya temukan dalam karakter Basil yang berhasil diperankan Samo Rafael”, tuturnya.

Selain hubungan Basil dan Elma, Dan Bandung juga menempatkan keluarga dan persahabatan sebagai bagian penting dari perjalanan cerita. Sejumlah karakter yang diperankan Donny Damara dan Jenny Zhang bahkan mampu menghadirkan emosi kuat meski tidak selalu mengandalkan dialog panjang. Kehadiran mereka memperluas makna perjuangan yang ingin disampaikan film tersebut.

Bagi Rudi Soedjarwo, cinta tidak selalu berbentuk hubungan antara laki-laki dan perempuan. Ada cinta dalam keluarga, kepedulian terhadap teman, serta perjuangan seseorang untuk tetap menjalankan pendidikan dan tanggung jawab hidup ketika menghadapi persoalan.

Karena itu, Dan Bandung mencoba membawa penonton pada pengalaman emosional yang lebih luas: bagaimana seseorang bertahan ketika cinta berhadapan dengan perbedaan, bagaimana keluarga menjadi tempat kembali ketika kehidupan terasa berat, dan bagaimana seorang teman dapat hadir ketika seseorang berada dalam titik terendah.

Bagi Shanna Shannon, Dan Bandung memiliki arti khusus karena menjadi film panjang pertamanya. Setelah menyaksikan film bersama awak media dan tamu undangan di gala premiere, ia mengaku merasa lega sekaligus bahagia. “Pastinya aku senang banget ya, dan rasanya lega banget. Karena kan memang ini film pertama (panjang) aku”, katanya.

Shanna Shannon juga memperhatikan respons penonton sepanjang pemutaran film. Tawa dan reaksi positif yang terdengar dari dalam studio membuatnya merasa perjuangannya sebagai Elma dapat diterima penonton. “Senang banget, rasanya lega banget. Artinya aku setidaknya sudah melakukan yang terbaik dan bisa diterima dengan baik”, ujarnya.

Sementara Samo Rafael mengaku memiliki pengalaman berbeda ketika menyaksikan dirinya sendiri di layar lebar. Ia merasa geli sekaligus canggung, tetapi pada saat yang sama ikut terbawa emosi hingga menangis. “Sangat senang, sangat bangga. Terima kasih semuanya yang sudah ketawa, sudah... tadi nangis enggak sih?”, katanya.

Rudi Soedjarwo juga mengungkapkan bahwa Dan Bandung menjadi kesempatan baginya untuk kembali menggali memori tentang film-film romansa Indonesia yang pernah ia tonton sejak kecil.

Berbeda dengan pengalaman ketika menggarap Ada Apa dengan Cinta?, Rudi Soedjarwo merasa proses menggarap Dan Bandung membuka kembali ingatannya terhadap berbagai film roman Indonesia dari masa lalu, termasuk karya-karya yang dibintangi Rano Karno dan Widyawati.

“Saya ingin Dan Bandung jadi film semua orang, bukan cuma yang punya kenangan saja di Bandung”, jelas Rudi Soedjarwo.

Karena itu, penggunaan bahasa Indonesia dalam dialog dibuat lebih dominan tanpa menghilangkan nuansa Sunda dan atmosfer Bandung yang menjadi latar utama cerita.

Rudi Soedjarwo yang juga berperan sebagai Director of Photography (DOP) memberikan perhatian pada bagaimana suasana Bandung tidak hanya menjadi latar visual, tetapi ikut menjadi bagian dari perjalanan emosional Basil dan Elma.

Produser Titin Suryani pun mengaku lega melihat hasil akhir film tersebut. “Sejak awal saya yakin Mas Rudi adalah orang yang tepat untuk membawa Dan Bandung ke layar lebar. Setelah melihat hasil akhirnya, rasanya lega sekaligus bangga melihat film ini akhirnya menjadi bagian dari perjalanan Verona Films”, ungkapnya.

Dengan perpaduan drama, romansa, perbedaan latar belakang, konflik keluarga, persahabatan dan perjuangan pendidikan, Dan Bandung mencoba menawarkan kisah cinta yang tidak berhenti pada persoalan “bersama atau berpisah”.

Film Dan Bandung mengajak penonton melihat bahwa setiap hubungan memiliki perjuangan masing-masing. Ada pasangan yang harus menghadapi perbedaan, keluarga yang harus bertahan dalam cobaan, dan sahabat yang menjadi tempat berbagi ketika kehidupan tidak berjalan sesuai harapan. (dewa; foto hfdb)