Indonesiasenang-, Jakarta – Kabar gembira bagi keluarga dan masyarakat yang peduli terhadap isu perlindungan anak. Festival Pahlawan Anak 2026 akan digelar pada 13–16 Agustus 2026 di Gandaria City, Jakarta Selatan. Festival yang diinisiasi Save the Children Indonesia ini menjadi bagian dari peringatan 50 tahun perjalanan organisasi tersebut di Indonesia sekaligus mengajak masyarakat berkolaborasi mewujudkan pemenuhan hak anak.
Tak sekadar menjadi perayaan, Festival Pahlawan Anak di Gandaria City dirancang sebagai gerakan kolaboratif yang menghadirkan berbagai kegiatan edukatif, ruang dialog, aktivitas interaktif, hingga pengalaman belajar bagi anak, orang tua, komunitas, dan masyarakat umum. Festival ini diharapkan menjadi salah satu event keluarga di Jakarta yang menginspirasi lebih banyak pihak untuk ikut mendukung masa depan anak Indonesia.

Momentum ini menjadi penting mengingat masih banyak tantangan dalam perlindungan anak di Indonesia. Save the Children Indonesia menegaskan bahwa pemenuhan hak anak mencakup hak sipil, pengasuhan keluarga, kesehatan dan gizi, pendidikan dasar, hingga perlindungan dari berbagai bentuk kekerasan.
Fakta Perlindungan Anak di Indonesia Masih Memprihatinkan
Berdasarkan Profil Anak Indonesia 2025 yang diterbitkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), Indonesia masih menghadapi sejumlah persoalan serius. Sebanyak 29,8 juta anak mengalami ketertinggalan pembelajaran, sementara 19,8 persen anak mengalami stunting. Selain itu, sepanjang 2025 terjadi 4.727 bencana yang turut meningkatkan kerentanan anak terhadap berbagai risiko.
Data Kekerasan Anak di Indonesia Masih Tinggi, Terjadi di Lingkungan Terdekat
Selain persoalan pendidikan dan kesehatan, kasus kekerasan terhadap anak juga masih menjadi perhatian serius. Data SIMFONI-PPA menunjukkan terdapat lebih dari 15.300 kasus kekerasan seksual, 12.160 kasus kekerasan fisik, dan sekitar 60,1 persen kasus terjadi di rumah, tempat yang seharusnya menjadi lingkungan paling aman bagi anak. Fakta ini menjadi pengingat bahwa perlindungan anak membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

Peran Save the Children Indonesia dalam Perlindungan Anak
Selama hampir lima dekade sejak berdiri pada 1976, Save the Children Indonesia telah menjalankan berbagai program untuk meningkatkan kualitas hidup anak melalui bidang kesehatan dan gizi, pendidikan dasar, perlindungan anak, peningkatan resiliensi, hingga kesiapsiagaan dan respons bencana. Berbagai upaya tersebut juga diperkuat melalui advokasi kebijakan, penguatan kapasitas, serta praktik yang mendukung sistem perlindungan anak di Indonesia.
Organisasi ini turut mendorong berbagai perubahan kebijakan, mulai dari penguatan pengasuhan berbasis keluarga melalui Permensos Nomor 30/HUK/2011 tentang Standar Nasional Pengasuhan Anak untuk Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA), Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2017 mengenai Pelaksanaan Pengasuhan Anak, penguatan partisipasi anak melalui Children and Youth Advisory Network (CYAN), hingga pengembangan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) menjadi bagian dari Lembaga Ketahanan Desa (LKD).
Kampanye Stop Pneumonia Selamatkan Ribuan Anak
Selain itu, kampanye Stop Pneumonia yang dijalankan sejak 2019 hingga 2022 turut mendorong pemerintah memasukkan vaksin Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV) ke dalam program imunisasi dasar nasional. Kebijakan tersebut diharapkan mampu menyelamatkan sekitar 10.000 nyawa anak balita dari risiko kematian akibat pneumonia.

Kolaborasi Jadi Kunci Perlindungan Anak
CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurnia Ukar, mengatakan bahwa perjalanan selama 50 tahun memberikan pelajaran penting bahwa perubahan besar hanya dapat diwujudkan melalui kerja sama berbagai pihak.
"Selama 50 tahun, Save the Children Indonesia belajar bahwa perubahan yang paling bermakna tidak pernah lahir dari satu pihak, melainkan dari kolaborasi. Berbagai capaian yang telah diraih menunjukkan bahwa perubahan nyata bagi anak dapat terwujud ketika semua pihak bergerak bersama. Namun, perjalanan ini juga mengingatkan kita bahwa masih banyak tantangan yang harus dijawab. Karena itu, keberpihakan terhadap anak tidak boleh berhenti sebagai komitmen, tetapi harus diwujudkan melalui kolaborasi yang semakin kuat dan aksi yang konkret serta berkelanjutan," ujar Dessy Kurnia Ukar.
Festival Pahlawan Anak juga terselenggara berkat dukungan berbagai pihak yang memiliki komitmen terhadap pemenuhan hak anak di Indonesia. Save the Children Indonesia menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Gandaria City sebagai lokasi penyelenggaraan, para media partner, para pendukung Save the Children Indonesia, serta sejumlah tokoh yang berperan sebagai Festival Advisor.

Festival Keluarga yang Mengajak Semua Orang Menjadi Pahlawan Anak
Melalui Festival Pahlawan Anak, Save the Children Indonesia berharap semakin banyak masyarakat terlibat dalam membangun ekosistem yang berpihak pada kepentingan terbaik anak. Peringatan 50 tahun organisasi ini bukan hanya menjadi refleksi perjalanan panjang, tetapi juga menjadi langkah memperluas gerakan bersama agar setiap anak di Indonesia memperoleh haknya untuk tumbuh, belajar, dan hidup di lingkungan yang aman.
Bagi masyarakat yang ingin mencari event keluarga di Jakarta pada Agustus 2026, Festival Pahlawan Anak di Gandaria City Jakarta Selatan menjadi salah satu agenda yang patut dikunjungi. Selain menghadirkan berbagai kegiatan edukatif dan interaktif, festival ini juga mengajak seluruh masyarakat ikut berperan dalam mendukung perlindungan anak dan pemenuhan hak anak di Indonesia. (kintan; praba)