Indonesiasenang-, Pulang tidak selalu berarti kembali ke tempat yang dirindukan. Bagi Pertiwi, kepulangan justru menjadi perjalanan untuk berhadapan dengan masa lalu, luka, dan orang-orang yang pernah mengisi hidupnya.
Kisah tersebut menjadi inti film terbaru Kamila Andini, Empat Musim Pertiwi, yang trailer dan posternya resmi diperkenalkan Forka Films pada Senin, 8 September 2026.
Diperankan Putri Marino, Pertiwi digambarkan sebagai perempuan yang kembali setelah puluhan tahun pergi. Ia datang ke Bromo, sebuah tempat yang bukan hanya menjadi latar cerita, tetapi juga ruang bagi Pertiwi untuk membuka kembali berbagai kenangan yang selama ini ditinggalkan.
Trailer berdurasi sekitar dua menit memperlihatkan Bromo dari sisi yang berbeda. Hamparan kampung, persawahan, hingga lautan pasir menjadi bagian dari perjalanan visual Pertiwi. Lanskap tersebut menghadirkan kesan luas sekaligus misterius, seolah menggambarkan ruang batin karakter utamanya.
Di sana, Pertiwi kembali bertemu dengan orang-orang dari masa lalunya. Ada mereka yang pernah menjadi bagian dari kebahagiaan, tetapi ada pula yang meninggalkan luka.
Empat musim dalam film ini kemudian menjadi metafora perjalanan kehidupan Pertiwi. Setiap musim membawa pengalaman, luka, kehilangan, dan proses untuk menemukan kembali dirinya.
Empat Musim Pertiwi sekaligus menandai eksplorasi baru Kamila Andini dalam dunia perfilman. Sutradara yang sebelumnya dikenal melalui film seperti Yuni dan Before, Now & Then kali ini memasukkan elemen fiksi ilmiah ke dalam cerita drama manusia.
Diungkapkan oleh Kamila Andini bahwa dirinya memang memiliki ketertarikan terhadap genre sci-fi. Namun, baru melalui cerita Pertiwi ia merasa genre tersebut memiliki alasan yang kuat untuk digunakan. "Saya memang suka sci-fi. Tapi baru sekarang merasa perlu menggunakannya”, ujarnya dalam jumpa pers di Epicentrum XXI, Jakarta.
Menurut Kamila Andini, penggunaan sci-fi bukan sekadar untuk memperbesar skala visual film. Genre tersebut justru dipilih karena dianggap mampu menyampaikan perjalanan Pertiwi dengan cara yang lebih universal.
"Setiap cerita punya kebutuhannya sendiri. Untuk bicara tentang perjalanan Pertiwi, sci-fi adalah cara paling jujur dan paling universal”, kata Kamila Andini.
Pilihan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi perfilman Indonesia. Genre fiksi ilmiah selama ini belum banyak digunakan untuk menggabungkannya dengan drama personal dan perjalanan emosional karakter.
Namun, Empat Musim Pertiwi mencoba menjadikan elemen tersebut sebagai bagian dari bahasa sinematik cerita.
Menariknya, perjalanan Empat Musim Pertiwi telah dimulai sejak 2017. Artinya, film ini membutuhkan waktu hampir satu dekade hingga akhirnya siap diperkenalkan kepada penonton.
Putri Marino bahkan telah dipertimbangkan untuk memerankan Pertiwi sejak tahap awal pengembangan cerita. Kini, proyek tersebut mempertemukan kembali Kamila Andini, Ifa Isfansyah, Putri Marino, dan Arya Saloka.
Produksi film dilakukan pada 2025 dengan sebagian besar proses syuting berlangsung di Bromo. Pemilihan lokasi tersebut sekaligus menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pengerjaan film.
"Ini skala terbesar Forka Films. Post-production-nya juga penuh detail. Kami ingin penonton merasakan bahwa ini hanya bisa terjadi di bioskop”, ujar Ifa Isfansyah.
Skala produksi tersebut membuat Empat Musim Pertiwi tidak hanya mengandalkan kekuatan cerita, tetapi juga pengalaman visual yang ditawarkan kepada penonton.
Peran Pertiwi juga menjadi tantangan tersendiri bagi Putri Marino. Ia harus memainkan karakter perempuan yang secara emosional telah mengalami banyak hal hingga membuat dirinya terasa dingin.
"Diminta jadi orang yang seperti sudah mati di dalamnya, dingin”, ucap Putri Marino.
Untuk mendalami karakter tersebut, Kamila Andini memberikan novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal El-Saadawi kepada Putri Marino sebagai salah satu referensi. "Buku itu membantu saya memahami apa yang dilalui Pertiwi”, katanya.
Pendekatan tersebut membantu Putri Marino membangun karakter Pertiwi bukan hanya sebagai perempuan yang kembali ke kampung halaman, tetapi sebagai seseorang yang sedang berusaha memahami kembali dirinya sendiri.
Selain menghadirkan aktor-aktor seperti Christine Hakim, Hana Malasan, Shofia Shireen, Nagra Pakusadewo, dan Arya Saloka, film ini juga memberi ruang bagi Dwika Pradnyana dan Hanna Aretha.
Dwika merupakan aktor dengan vitiligo, sedangkan Hanna merupakan aktor tuli. Kehadiran keduanya menjadi bagian dari upaya film menghadirkan wajah yang lebih beragam di layar lebar Indonesia.
Empat Musim Pertiwi tidak menempatkan keberagaman tersebut sekadar sebagai elemen tambahan, melainkan sebagai bagian dari dunia cerita yang dibangun sejak awal.
Perjalanan Empat Musim Pertiwi juga tidak berhenti di Indonesia. Menggunakan judul internasional Four Seasons in Java, film ini akan melakukan pemutaran perdana di Toronto International Film Festival pada September 2026.
Kehadiran di Toronto menjadi momen penting bagi Kamila Andini. Sebelumnya, film Yuni berhasil meraih Platform Prize di festival tersebut pada 2021.
Perjalanan festival film kemudian berlanjut ke Busan International Film Festival. Pada 8 Oktober 2026, Four Seasons in Java dijadwalkan hadir dalam program A Window On Asian Cinema. Film ini merupakan hasil ko-produksi enam negara, yakni Indonesia, Prancis, Belanda, Norwegia, Arab Saudi, dan Polandia.
Dukungan juga datang dari sejumlah perusahaan film dan industri kreatif, termasuk Miles Films, Jagartha, Trinity Optima, Imajinari, hingga Oriflame.
Untuk pasar internasional, Goodfellas asal Prancis dipercaya menangani penjualan film tersebut. Perusahaan itu sebelumnya dikenal menangani film-film internasional seperti Pan’s Labyrinth, The Artist, Shoplifters, dan Titane.
Bagi Ifa Isfansyah, perjalanan internasional tersebut menunjukkan adanya kepercayaan terhadap karya sinema Indonesia. "Ini bentuk kepercayaan pada kualitas artistik dan potensi sinema Indonesia”, ujarnya.
Setelah melewati perjalanan panjang sejak ide awal dikembangkan pada 2017, proses produksi pada 2025, hingga menuju sejumlah festival film internasional, Empat Musim Pertiwi akhirnya akan bertemu dengan penonton Indonesia.
Mulai 08 Oktober 2026, penonton diajak mengikuti perjalanan Pertiwi di layar lebar. Sebuah perjalanan tentang pulang, menghadapi luka, dan mencoba menemukan kehidupan setelah melewati musim-musim terburuk.
Sebab, terkadang seseorang harus kembali ke tempat yang paling ingin ditinggalkan untuk akhirnya benar-benar bisa melanjutkan hidup. (fathur; foto af)