Chrisyella Cysile Tanada Pimpin Pesanggrahan Berpijar di Ulujami

Chrisyella Cysile Tanada memimpin program Pesanggrahan Berpijar LSPR, mengedukasi warga Ulujami mengolah minyak jelantah bernilai ekonomi

Chrisyella Cysile Tanada Pimpin Pesanggrahan Berpijar di Ulujami

Indonesiasenang-, Bagi sebagian mahasiswa, ruang kelas menjadi tempat utama untuk memperoleh ilmu. Namun bagi Chrisyella Cysile Tanada dan rekan-rekannya di Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR, pembelajaran sesungguhnya juga hadir ketika mereka terjun langsung ke tengah masyarakat.

Sebagai Ketua Pelaksana program Community Development bertajuk Pesanggrahan Berpijar “Berubah Bersama, Berpijar Selamanya", Chrisyella Cysile Tanada memimpin tim mahasiswa Public Relations & Digital Communication LSPR selama kurang lebih empat bulan untuk merancang program edukasi dan pemberdayaan masyarakat berbasis pengelolaan limbah minyak jelantah di Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Berawal dari berbagai ide yang muncul dalam diskusi kelas, Chrisyella dan tim harus menentukan satu isu yang paling relevan untuk diangkat menjadi program pengabdian masyarakat.

"Kami membutuhkan sekitar empat bulan untuk mempersiapkan semuanya. Mulai dari menentukan tema, mencari wilayah sasaran, melakukan riset isu, menyusun proposal, hingga membangun kerja sama dengan berbagai pihak”, ujar Chrisyella Cysile Tanada saat ditemui dalam acara puncak Pesanggrahan Berpijar di RPTRA Nusantara Ulujami, Minggu (21/6/2026).

Menurutnya, proses menentukan isu menjadi salah satu tahapan yang paling menantang. Sebagai mahasiswa Public Relations, setiap anggota tim memiliki pandangan dan ide yang berbeda-beda sehingga diskusi sering berlangsung panjang.

"Karena kami mahasiswa PR, tentu setiap orang memiliki cara pandang dan pendapat masing-masing. Diskusinya cukup alot, tetapi dari situ kami belajar bagaimana mencari titik temu dan mengambil keputusan bersama”, kata Chrisyella Cysile Tanada.

Dari berbagai alternatif yang muncul, tim akhirnya memilih persoalan limbah minyak jelantah. Pilihan tersebut sempat menimbulkan pertanyaan, termasuk dari Chrisyella Cysile Tanada sendiri. Sebagai mahasiswa Public Relations, ia awalnya tidak membayangkan akan terlibat langsung dalam isu lingkungan hidup dan pengelolaan limbah rumah tangga.

"Saya sempat berpikir, mengapa mahasiswa PR harus mengurus limbah? Namun setelah menjalani proses ini, saya memahami bahwa tugas kami bukan hanya berkomunikasi, tetapi juga membangun hubungan dengan masyarakat dan membantu menghadirkan solusi atas persoalan yang mereka hadapi”, ungkap Chrisyella Cysile Tanada

Pemahaman tersebut kemudian menjadi fondasi lahirnya Pesanggrahan Berpijar. Program ini berangkat dari kenyataan bahwa minyak jelantah merupakan limbah yang hampir dihasilkan setiap hari oleh rumah tangga. Jika dibuang sembarangan, limbah tersebut berpotensi mencemari lingkungan. Sementara jika digunakan berulang kali untuk memasak, minyak jelantah juga dapat menimbulkan risiko kesehatan.

Melihat kondisi tersebut, Chrisyella Cysile Tanada bersama tim berupaya menghadirkan pendekatan yang sederhana dan mudah diterapkan masyarakat, yaitu mengolah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi yang memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi.

"Kami ingin menunjukkan bahwa sesuatu yang selama ini dianggap limbah ternyata bisa menjadi produk yang bermanfaat dan bahkan memiliki nilai jual”, ujar Chrisyella Cysile Tanada.

Sebelum menggelar acara utama, tim Pesanggrahan Berpijar terlebih dahulu melaksanakan kampanye edukasi melalui media sosial dan kegiatan Pesanggrahan Berpijar Goes to School di SMK Perwira Jakarta. Lebih dari 70 siswa mengikuti sosialisasi mengenai pengelolaan minyak jelantah dan pentingnya menjaga lingkungan sejak usia muda.

Bagi Chrisyella Cysile Tanada, keterlibatan pelajar menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran lingkungan yang berkelanjutan. "Kami berharap para siswa bisa menjadi generasi penerus yang membawa semangat pengelolaan limbah secara lebih baik di masa depan”, ucapnya.

Pada acara puncak yang berlangsung di RPTRA Nusantara Ulujami, masyarakat mendapatkan kesempatan mengikuti workshop pengolahan minyak jelantah yang dipandu oleh Bank Sampah Akademi Kompos. Selain itu, peserta juga dapat mengunjungi area pameran yang menampilkan berbagai produk hasil olahan minyak jelantah.

Dijelaskan oleh Chrisyella Cysile Tanada bahwa berdasarkan hasil riset yang dilakukan tim, masyarakat Ulujami sebenarnya telah memiliki kesadaran untuk mengumpulkan minyak jelantah. Namun sebagian besar belum mengetahui cara mengolahnya menjadi produk bernilai tambah.

"Kami melihat masyarakat sudah sadar untuk mengumpulkan minyak jelantah, tetapi belum banyak yang mengetahui bagaimana mengolahnya. Karena itu kami ingin memberikan pengalaman langsung melalui workshop ini”, kata Chrisyella Cysile Tanada.

Di balik keberhasilan program tersebut, Chrisyella Cysile Tanada mengaku memperoleh banyak pelajaran berharga sebagai mahasiswa. Ia belajar mengelola tim yang terdiri dari puluhan orang, menyusun anggaran, membangun komunikasi dengan pihak eksternal, hingga memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan sesuai rencana.

Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa pembelajaran di kampus perlu dilengkapi dengan pengalaman lapangan agar mahasiswa memiliki kemampuan yang lebih komprehensif saat memasuki dunia kerja.

"Belajar teori di kelas sangat penting, tetapi tidak cukup. Melalui Community Development kami belajar langsung bagaimana merancang program, mengelola sumber daya, membangun relasi dengan masyarakat, sekolah, mitra, dan pemerintah setempat. Pengalaman ini sangat berharga bagi kami”, tutur Chrisyella Cysile Tanada.

Program yang melibatkan sekitar 34 mahasiswa tersebut juga memperlihatkan bahwa peran Public Relations tidak hanya berkaitan dengan publikasi atau kegiatan seremonial. Lebih dari itu, PR memiliki fungsi strategis dalam menjembatani komunikasi antara berbagai pihak untuk menciptakan perubahan sosial yang nyata.

Menutup kegiatan tersebut, Chrisyella Cysile Tanada menyampaikan pesan kepada generasi muda agar tidak takut mencoba hal-hal baru dan keluar dari zona nyaman. "Jangan hanya belajar di kampus. Selagi masih muda, carilah sebanyak mungkin pengalaman dan relasi. Dari situ kita bisa belajar banyak hal yang akan menjadi bekal penting untuk masa depan”, pungkasnya.

Melalui Pesanggrahan Berpijar, Chrisyella Cysile Tanada dan tim membuktikan bahwa mahasiswa tidak hanya hadir sebagai pembelajar, tetapi juga dapat menjadi agen perubahan yang membawa manfaat nyata bagi lingkungan dan masyarakat. (devin; foto tcs)


Share Tweet Send
0 Komentar
Memuat...
You've successfully subscribed to Indonesia Senang Dot Com - Semampu kita bisa dan lakukan keSENANGanmu
Great! Next, complete checkout for full access to Indonesia Senang Dot Com - Semampu kita bisa dan lakukan keSENANGanmu
Welcome back! You've successfully signed in
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.