Indonesiasenang-, Jakarta – Pernah merasa perjalanan menuju tempat kerja lebih melelahkan daripada pekerjaan itu sendiri? Harus buru-buru mengejar bus, berdiri berdesakan, menunggu kendaraan, berpindah moda transportasi, lalu pulang dengan tubuh yang sudah lelah? Situasi seperti inilah yang coba diterjemahkan Sigit Wardana melalui lagu terbarunya, “Bis Kota”.
Lewat video lirik “Bis Kota”, Sigit tidak sekadar bercerita tentang transportasi umum atau hiruk-pikuk Jakarta. Lagu ini justru membawa makna yang lebih luas tentang perjalanan hidup, perjuangan, ketangguhan, hingga cara seseorang menemukan kebahagiaan di tengah rutinitas yang melelahkan.
Bagi Sigit, kehidupan masyarakat urban memang tidak selalu mudah. Ada momen ketika seseorang harus berdesakan, berebut tempat, mengejar waktu, dan menghadapi berbagai situasi tak terduga. Namun, semua itu merupakan bagian dari perjalanan yang tetap harus dijalani.
“Ide utamanya adalah menangkap realitas dan denyut nadi keseharian masyarakat urban. Walaupun liriknya bercerita tentang betapa melelahkannya berebut kursi dan berdesakan, pesan yang ingin saya sampaikan justru tentang ketangguhan dan kebahagiaan. Bahwa di balik kerasnya perjuangan di jalanan kota, kita selalu punya alasan untuk tetap menikmati perjalanannya,” ujar Sigit Wardana.
“Bis Kota” Bukan Cuma tentang Transportasi Umum
Pemilihan bus kota sebagai tema lagu sebenarnya menjadi metafora yang cukup dekat dengan kehidupan. Dalam perjalanan menggunakan transportasi umum, seseorang tidak selalu mendapatkan kondisi yang nyaman. Kadang harus berdiri, menunggu, berdesakan, bahkan menghadapi kemacetan. Namun, perjalanan tetap harus dilanjutkan karena ada tujuan yang ingin dicapai.
Makna tersebut juga menjadi gambaran perjalanan Sigit di industri musik. Setelah melewati berbagai dinamika karier, ia melihat perjalanan bermusik sebagai sebuah proses yang tidak selalu berjalan mulus.
“Perjalanan di ‘Bis Kota’ ini bisa dibilang menjadi metafora untuk perjalanan panjang karier saya di industri musik. Ada kalanya kita harus berdiri, berdesakan, dan bersabar melewati berbagai dinamika. Tapi pada akhirnya, saya tahu persis ke mana tujuan saya dan saya selalu menemukan kebahagiaan dalam proses bermusik itu sendiri,” tutur Sigit.
Karena itu, kalimat “memang susah tapi ku tetap bahagia” menjadi salah satu pesan penting dalam lagu ini. Ada penerimaan bahwa hidup memang penuh tantangan, tetapi kesulitan tidak selalu berarti seseorang harus kehilangan kebahagiaannya.
Makna lagu semakin terasa melalui video lirik yang mengambil berbagai sudut transportasi publik Jakarta. TransJakarta, halte, eskalator, trotoar, hingga keramaian penumpang menjadi bagian dari perjalanan visual Sigit.
TransJakarta dipilih karena dianggap mampu merepresentasikan wajah Jakarta modern. Di dalamnya, orang-orang dari berbagai latar belakang bertemu dan menjalani perjalanan yang sama.
Menariknya, Sigit juga memang terbiasa menggunakan transportasi publik seperti TransJakarta, kereta, MRT, LRT, hingga ojek online. Karena itu, situasi yang ditampilkan dalam video lirik bukan sekadar konsep visual, melainkan sesuatu yang dekat dengan pengalaman kesehariannya.
Keramaian tersebut kemudian menghadirkan satu makna lain: seseorang bisa saja merasa sendirian meski berada di tengah banyak orang. Di tengah bus yang penuh dan jalanan yang ramai, manusia tetap menjalani perjuangan masing-masing.
Dari Jalanan Jakarta Kembali ke Musik
Video “Bis Kota” juga punya simbolisme yang menarik. Perjalanan dimulai dari trotoar, berlanjut ke eskalator, halte, bus, hingga akhirnya Sigit masuk ke studio rekaman.
Studio menjadi semacam titik tujuan dari perjalanan tersebut. “Sepanjang dan selelah apa pun perjalanan di luar sana, ia akan selalu membawa saya ke tempat di mana saya merasa bahagia, yaitu musik,” ungkap Sigit.
Konsep video yang dibuat dengan pendekatan candid dan street style semakin memperkuat pesan tersebut. Jakarta ditampilkan apa adanya: ramai, padat, penuh aktivitas, tetapi tetap menyimpan cerita di setiap sudutnya.
Bahkan ketika tim produksi mengejar suasana sunset di Stasiun Manggarai dan cuaca berubah menjadi berawan, situasi tersebut justru diolah menjadi visual siluet.
Hal ini seolah memperkuat pesan “Bis Kota”: tidak semua perjalanan berjalan sesuai rencana, tetapi bukan berarti perjalanan tersebut kehilangan makna.
Pada akhirnya, “Bis Kota” Sigit Wardana adalah lagu tentang kehidupan. Tentang orang-orang yang setiap hari bangun, berangkat, mengejar waktu, berdesakan, menunggu, dan pulang dalam keadaan lelah.Namun, di balik semua itu, tetap ada alasan untuk tersenyum.Perjalanan menggunakan bus kota, hidup bukan hanya tentang seberapa cepat kita sampai ke tujuan, tetapi juga tentang bagaimana kita menjalani perjalanan dan menemukan kebahagiaan di sepanjang jalan. (kintan)