Indonesiasenang-, Tantangan industri film anak Indonesia menjadi fokus pembahasan dalam Diskusi Film Anak Indonesia yang digelar sebagai bagian dari rangkaian Kreatif Merdeka Carnival 2026 – Pekan Diskusi Film Indonesia. Kegiatan yang diselenggarakan PT Avatara Lintas Media ini berlangsung pada Senin, 10 Agustus 2026, pukul 14.00–17.00 WIB di PFN Heritage, Jalan Otista Raya No. 125–127, Jakarta Timur.

Mengangkat tema “Tantangan Industri Film Anak”, diskusi ini menjadi forum untuk membahas perkembangan, peluang, serta berbagai persoalan yang dihadapi industri film anak di Indonesia.

Sejumlah praktisi perfilman menjadi narasumber, yakni Fauzan Zidni, Ketua Umum BPI; Upie Guava, sutradara film Pelangi di Mars; Aditya Gumay, sutradara sekaligus pemilik Sanggar Ananda; serta Indrayanto Kurniawan, Ketua Umum KFT Indonesia. Diskusi dipandu Mario Tetelepta.

Berlangsung hampir tiga jam, diskusi membahas beragam persoalan film anak Indonesia, mulai dari peran orangtua dalam memilih tontonan, batas usia penonton, perkembangan film animasi, hingga tantangan industri perfilman Indonesia dan global.

Pilihan Menonton Film Anak Ada pada Orangtua, Sering Kali Tak Sesuai Usia Anak

Fauzan Zidni, Ketua Umum BPI, mengungkapkan salah satu persoalan yang masih banyak terjadi adalah orangtua membawa anak menonton film yang sebenarnya belum sesuai dengan usia mereka.

“Contoh film Spider-Man yang sedang ramai. Seru, dipikirnya film superhero, tetapi di dalamnya ada hal-hal yang tidak sesuai dengan anak. Sudah ditetapkan film ini untuk usia 13+, namun yang menonton anak-anak yang bahkan baru berusia 6–7 tahun. Ini menjadi masalah yang marak terjadi,” ungkapnya.

Menurut Fauzan, pilihan tontonan anak selama ini kerap mengikuti selera orangtua, bukan berdasarkan kebutuhan dan klasifikasi usia anak. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya literasi kepada orangtua mengenai klasifikasi usia serta konten yang aman dan sesuai untuk anak.

Film Anak Indonesia Harus Jadi Kekuatan Budaya Nusantara

Sementara itu, Produser sekaligus Ketua Umum KFT Indonesia, Indrayanto Kurniawan, menilai Indonesia memiliki kekayaan cerita dan budaya yang jauh lebih luas untuk dikembangkan melalui film anak dan animasi Indonesia.

Menurutnya, film anak tidak harus selalu mengambil latar Jakarta atau mengangkat cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat perkotaan. Berbagai daerah di Indonesia memiliki budaya, karakter, dan kisah lokal yang potensial dikembangkan menjadi cerita film maupun animasi.

“Apakah film animasi di Indonesia hanya Jakarta? Apakah film anak itu tidak boleh cerita Papua? Atau daerah lain? Itu kan jadi pertanyaan besar. Harusnya film anak harus jadi kekuatan budaya Republik Indonesia,” ujar Indrayanto.

Menurutnya, membangun film anak sebagai kekuatan budaya bukan hanya menjadi tugas sineas, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh ekosistem perfilman Indonesia. Film anak dapat menjadi sarana untuk mengenalkan keberagaman Indonesia kepada generasi muda sekaligus memperkenalkan identitas Nusantara ke pasar internasional.

Pelangi di Mars Jadi Contoh Pengembangan Teknologi Film Indonesia

Upie Guava, sutradara film Pelangi di Mars, turut menuturkan proses panjang pengembangan teknologi dalam produksi film tersebut. Sekitar tiga tahun pertama dihabiskan untuk membangun dan mengembangkan teknologi yang dibutuhkan.

Langkah tersebut menjadi penting karena ketika proyek dimulai, teknologi yang dibutuhkan belum tersedia secara matang di Indonesia.

“Dalam tiga tahun pertama, kita fokus membangun teknologinya. Karena pada saat itu tantangan terbesar adalah kita ingin proyek ini berjalan panjang, pengembangan AI-nya juga terus berjalan. Otomatis teknologinya itu belum ada di Indonesia,” ujar Upie Guava.

Pada masa tersebut, industri film dunia juga tengah mengalami perubahan besar, khususnya dalam penggunaan teknologi visual effects (VFX) dan animasi. Teknologi yang sebelumnya berkembang di industri gim mulai merambah produksi film melalui konsep real-time rendering.

Salah satunya adalah Unreal Engine. Menurut Upie, teknologi yang awalnya dikenal sebagai perangkat untuk membuat gim tersebut mulai dimanfaatkan dalam produksi film karena mampu menghasilkan visual secara real-time.

“Software-software untuk membuat gim ini sudah masuk ke ranah animasi karena teknologi real-time,” jelasnya.

Riset dan pengembangan teknologi yang berlangsung hingga tiga tahun tersebut turut membuat proses produksi film menjadi panjang. Secara keseluruhan, proyek Pelangi di Mars menghabiskan waktu sekitar lima tahun. Upie berharap Indonesia mampu terus mengembangkan teknologi dan menghasilkan film animasi berkualitas yang mampu bersaing dengan karya dari negara lain.

Selain perfilman, rangkaian Kreatif Merdeka Carnival 2026 juga mencakup pembahasan mengenai konten digital, artificial intelligence (AI), animasi, serta isu disabilitas. Kegiatan tersebut dirancang untuk memberikan wawasan dan pengalaman praktis sekaligus mempertemukan peserta dengan pelaku industri kreatif.

Peserta diskusi ditujukan bagi pelajar dan guru SMK, SMA, dan MA, serta generasi muda yang memiliki ketertarikan terhadap dunia film dan industri kreatif. Peserta juga mendapatkan e-sertifikat sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi dalam kegiatan.

Melalui Diskusi Film Anak Indonesia, Kreatif Merdeka Carnival 2026 diharapkan dapat mendorong pembahasan yang lebih luas mengenai masa depan industri film anak Indonesia, sekaligus memperkuat keterlibatan generasi muda dalam perkembangan perfilman nasional. (kintan; foto praba)