Indonesiasenang-, Setiap daerah di Indonesia memiliki kuliner yang tidak hanya dikenal karena kelezatannya, tetapi juga menyimpan cerita tentang perjalanan budaya masyarakatnya. Di Lombok, Nusa Tenggara Barat, salah satu hidangan yang merepresentasikan kekayaan tersebut adalah ayam taliwang.
Ayam taliwang menjadi salah satu sajian yang identik dengan Lombok. Olahan ayam kampung ini dikenal melalui penggunaan bumbu rempah yang kuat serta perpaduan rasa pedas, gurih, dan manis. Sederhana dalam proses pengolahannya, tetapi kaya karakter ketika disantap.
Secara tradisional, ayam taliwang menggunakan ayam kampung muda berukuran sedang. Ayam biasanya dibelah pada bagian tengah sebelum dimasak bersama bumbu. Cara tersebut membuat bumbu lebih mudah meresap hingga ke bagian daging.
Bumbu menjadi bagian penting dalam karakter ayam taliwang. Racikannya dapat terdiri atas cabai merah kering atau cabai rawit, bawang merah, bawang putih, tomat, terasi, garam, kencur, dan gula merah. Sejumlah versi resep juga menggunakan kemiri, kunyit, serta perasan jeruk nipis atau asam jawa.
Bumbu yang telah dihaluskan kemudian ditumis hingga matang. Ayam selanjutnya dimasak bersama bumbu tersebut hingga cita rasanya meresap. Setelah itu, ayam dibakar sambil kembali dilumuri bumbu.
Proses pembakaran menggunakan arang menghasilkan aroma khas dan memberikan sedikit sensasi smoky pada permukaan ayam. Ketika disantap, rasa pedas dan gurih dari bumbu berpadu dengan rasa manis yang membuat karakter ayam taliwang semakin kuat.
Popularitas ayam taliwang membuat hidangan ini tidak lagi hanya dikenal sebagai makanan rumahan masyarakat Lombok. Dari waktu ke waktu, ayam taliwang berkembang menjadi menu yang banyak dicari wisatawan ketika berkunjung ke Nusa Tenggara Barat.
Namun, daya tariknya bukan semata terletak pada rasa pedas. Ayam taliwang juga memiliki cerita mengenai hubungan antarmasyarakat dan pertukaran budaya.
Salah satu versi sejarah menghubungkan nama ayam taliwang dengan Kerajaan Taliwang dari Sumbawa. Kisah tersebut berkaitan dengan konflik antara Kerajaan Selaparang di Lombok dan Kerajaan Karangasem dari Bali sekitar abad ke-17.
Dalam cerita tersebut, pasukan Kerajaan Taliwang datang ke Lombok untuk membantu Kerajaan Selaparang. Mereka kemudian ditempatkan di kawasan yang dikenal sebagai Karang Taliwang.
Rombongan tersebut tidak hanya terdiri atas prajurit, tetapi juga membawa pemuka agama, juru kuda, dan juru masak. Dalam interaksi dengan masyarakat Sasak, terjadi pertukaran pengetahuan dan kebiasaan, termasuk dalam hal makanan.
Juru masak dari Kerajaan Taliwang disebut memperkenalkan olahan ayam dengan bumbu bercita rasa pedas. Hidangan tersebut kemudian berkembang melalui interaksi dengan masyarakat setempat hingga dikenal sebagai ayam taliwang.
Versi lain menyebutkan bahwa ayam taliwang berkembang dari dapur masyarakat biasa. Sajian yang sederhana dan mudah disiapkan disebut menjadi makanan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada masa perjuangan.
Ada pula versi yang menyebut makanan tersebut awalnya disajikan di lingkungan bangsawan sebelum akhirnya dikenal masyarakat luas.
Perbedaan cerita tersebut menunjukkan bahwa sejarah ayam taliwang memiliki lebih dari satu versi. Begitu pula dengan asal nama "taliwang" yang dalam sejumlah cerita dikaitkan dengan Kerajaan Taliwang, sementara versi lainnya menghubungkannya dengan wilayah Taliwang di Sumbawa Barat.
Sebagai hidangan yang memiliki cita rasa kuat, ayam taliwang biasanya tidak disajikan sendirian. Nasi putih hangat menjadi pasangan utama, sementara plecing kangkung dan beberuk terong dapat melengkapi sajian.
Plecing kangkung menghadirkan kesegaran sekaligus rasa pedas, sedangkan beberuk terong memberikan tekstur dan sensasi segar yang berbeda. Kombinasi tersebut membuat satu hidangan ayam taliwang terasa semakin lengkap.
Popularitas ayam taliwang mulai semakin berkembang sekitar dekade 1960-an. Seiring bertambahnya peminat, warung-warung makan yang menjual ayam taliwang pun bermunculan.
Kini, hidangan tersebut telah menyebar ke berbagai daerah di Indonesia. Wisatawan tidak selalu harus datang ke Lombok untuk menemukan ayam taliwang karena sajian ini telah tersedia di banyak kota.
Meski demikian, menikmati ayam taliwang langsung di Lombok tetap memberikan pengalaman tersendiri. Selain merasakan bumbu khasnya, wisatawan juga dapat melihat bagaimana kuliner tersebut menjadi bagian dari kehidupan dan budaya masyarakat setempat.
Ayam taliwang memperlihatkan bagaimana bahan sederhana dapat menghasilkan makanan dengan karakter yang kuat. Ayam kampung, cabai, bawang, terasi, tomat, kencur, dan berbagai rempah lainnya berpadu menjadi sajian yang memiliki identitas tersendiri.
Cita rasa pedas yang dominan menjadi salah satu ciri makanan Lombok. Namun, pedas bukan satu-satunya karakter. Ada rasa gurih, manis, asam, aroma rempah, serta sensasi smoky dari proses pembakaran yang membuat ayam taliwang berbeda dari olahan ayam lainnya.
Karena itu, ayam taliwang dapat dipandang sebagai lebih dari sekadar kuliner tradisional. Hidangan ini merupakan bagian dari warisan budaya yang merekam perjalanan masyarakat, pertukaran tradisi, dan kekayaan rempah Nusantara.
Dari sebuah sajian ayam kampung berbumbu pedas, ayam taliwang kini menjelma menjadi salah satu simbol kuliner Lombok yang dikenal luas. Setiap potongannya membawa cita rasa sekaligus cerita tentang tanah asalnya. (fathur; foto bkkp)